JAKARTA - Di tengah eskalasi ancaman siber yang kian canggih, WhatsApp mengambil langkah proaktif dengan meluncurkan fitur advanced account protection atau pengaturan ketat akun.
Inovasi yang diperkenalkan pada akhir Januari 2026 ini merupakan sebuah sistem pertahanan tingkat tinggi yang dirancang khusus untuk memitigasi risiko serangan siber kelas berat, termasuk infeksi spyware yang sering mengincar celah komunikasi digital.
Meskipun fitur ini dapat digunakan oleh seluruh pengguna global, WhatsApp secara spesifik menargetkan perlindungan bagi mereka yang berada di garis depan risiko digital, seperti jurnalis, aktivis kemanusiaan, dan tokoh publik. Langkah ini menjadi penegasan bahwa privasi bukan sekadar opsi, melainkan hak mendasar yang harus dipertahankan melalui enkripsi end-to-end yang lebih solid.
Filosofi Perlindungan Ekstrem: Mengecilkan Celah Serangan Melalui Pembatasan
Prinsip kerja dari pengaturan ketat akun ini mengadopsi konsep lockdown mode yang populer di perangkat Apple dan Google. Saat mode ini diaktifkan, WhatsApp akan secara otomatis membatasi sejumlah fungsionalitas inti yang sering kali menjadi pintu masuk bagi peretas. Pendekatan ini bertujuan untuk memperkecil "permukaan serangan" sehingga perangkat tidak mudah disusupi oleh kode berbahaya.
Beberapa pilar perlindungan utama dalam mode ini meliputi:
Filter Ketat Lampiran: Memblokir secara otomatis semua jenis media dan lampiran dari pengirim yang tidak tersimpan di daftar kontak.
Privasi Maksimal: Menghilangkan akses bagi non-kontak untuk melihat foto profil, status online, hingga informasi "Tentang".
Komunikasi Terproteksi: Membungkam panggilan dari nomor asing, menonaktifkan pratinjau tautan (URL), serta memberikan kontrol penuh atas siapa yang boleh menambahkan pengguna ke dalam grup.
Belajar dari Sejarah: Respons Terhadap Ancaman Pegasus dan Isu Privasi
Inisiatif ini tidak muncul tanpa alasan. Rekam jejak kelam pada tahun 2019, di mana sekitar 1.400 pengguna menjadi target spyware Pegasus, menjadi pelajaran berharga bagi Meta. Melalui gugatan hukum terhadap NSO Group, Meta telah menunjukkan komitmennya di meja hijau, namun kehadiran fitur teknis ini menjadi perlindungan lapis pertama yang lebih krusial di tangan pengguna.
Di sisi lain, Meta juga menepis keras tuduhan yang menyatakan bahwa mereka memiliki akses terhadap pesan pribadi. Melalui juru bicaranya, Andy Stone, perusahaan menegaskan bahwa WhatsApp menggunakan protokol Signal untuk enkripsi. Artinya, secara teknis, pihak WhatsApp maupun Meta sekalipun tidak memiliki kunci untuk membaca isi percakapan pengguna, menjadikan klaim kebocoran tersebut sebagai narasi yang tidak berdasar.
Pandangan Pakar: Solusi Praktis Tanpa Perlu Keahlian Teknis
Kehadiran fitur ini mendapat sambutan hangat dari para aktivis hak digital. Natalia Krapiva, penasihat hukum teknologi dari Access Now, menilai bahwa fitur gratis ini jauh lebih efektif secara preventif dibandingkan jalur hukum yang mahal dan rumit. Baginya, langkah memberikan alat proteksi yang mudah dioperasikan bagi jurnalis dan aktivis adalah strategi cerdas untuk mencegah kerusakan sebelum serangan terjadi.
Sinergi antara perusahaan teknologi besar dalam mengaktifkan perlindungan canggih ini menunjukkan tren positif dalam industri. Dengan fitur ini, individu yang bekerja di lingkungan berisiko tinggi kini memiliki "perisai" tambahan yang tidak memerlukan pemahaman teknis mendalam untuk dioperasikan, namun memberikan dampak keamanan yang signifikan.
Panduan Aktivasi dan Rangkaian Fitur Keamanan Pendukung Lainnya
Bagi Anda yang merasa membutuhkan lapisan keamanan ekstra ini, pengaktifannya dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
Buka menu Settings.
Masuk ke bagian Privacy.
Pilih opsi Advanced.
Aktifkan Pengaturan Ketat Akun.
Perlu diingat bahwa demi alasan keamanan, pengaturan ini hanya bisa dilakukan melalui perangkat utama dan tidak tersedia lewat WhatsApp Web. Selain mode ketat ini, WhatsApp juga terus memperkuat ekosistemnya dengan fitur pendukung seperti Chat Lock dengan kode rahasia, penggunaan Passkeys untuk login tanpa sandi yang tahan terhadap phishing, hingga fitur edit pesan yang memberikan kontrol lebih atas komunikasi yang sudah terkirim.
Melalui integrasi berbagai lapisan keamanan ini, WhatsApp tidak lagi hanya sekadar aplikasi bertukar pesan, melainkan sebuah platform komunikasi yang menempatkan kendali penuh dan perlindungan data sebagai nilai jual utama bagi penggunanya di seluruh dunia.