Inspiratif Semangat Juang Hikayati Membangun Mimpi Besar Dari Ruang Belajar Sederhana

Jumat, 30 Januari 2026 | 10:32:16 WIB
Inspiratif Semangat Juang Hikayati Membangun Mimpi Besar Dari Ruang Belajar Sederhana

JAKARTA - Dunia pendidikan di tengah derasnya arus digitalisasi sering kali terjebak pada modernitas fasilitas. 

Namun, di sebuah sudut di Serang, Banten, kita diingatkan bahwa esensi sejati dari seorang pendidik bukan terletak pada kemewahan gedung atau canggihnya perangkat teknologi, melainkan pada ketulusan karakter dan transfer nilai-nilai kehidupan. Hikayati, seorang ibu sekaligus pendidik, menjadi bukti hidup bahwa dedikasi tidak membutuhkan alas yang empuk untuk bisa memberikan dampak yang luar biasa bagi masa depan generasi muda.

Ketulusan Mengajar di Atas Lantai Tanpa Batas Ruang

Bagi sebagian orang, ruang kelas yang nyaman adalah syarat mutlak dalam proses belajar mengajar. Namun bagi Hikayati, seorang guru Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA), batasan fisik hanyalah dekorasi luar yang tidak mempengaruhi semangatnya. Setiap hari, ia menyambut murid-muridnya di sebuah ruang yang sangat bersahaja. Di sana, tidak ada deretan meja kayu yang rapi atau kursi-kursi empuk. Proses transfer ilmu terjadi secara lesehan, beralaskan lantai yang dingin.

Meski sederhana, ruang tersebut selalu dipenuhi dengan antusiasme yang hangat. Hikayati menjalankan perannya dengan penuh keikhlasan yang mendalam. Kebahagiaan bagi dirinya bukanlah tentang seberapa besar gaji yang diterima di akhir bulan atau seberapa lengkap fasilitas yang dimiliki sekolahnya. Sebaliknya, kepuasan batin terpancar saat ia melihat anak-anak didiknya mulai mampu mengeja huruf, menuliskan kata-kata, hingga kelancaran mereka dalam menghafal doa-doa harian. Baginya, melihat perkembangan karakter dan spiritual anak didik adalah sebuah harta yang tidak ternilai harganya.

Visi Besar Melampaui Keterbatasan Fasilitas Pendidikan Fisik

Ada sebuah pesan kuat yang selalu digaungkan Hikayati di tengah keterbatasan yang ada. Ia tidak ingin murid-muridnya merasa kecil hati hanya karena kondisi tempat belajar mereka. Di balik dinginnya lantai tempat mereka duduk, ia selalu menanamkan optimisme yang membara dalam jiwa anak-anak binaannya. Hikayati memahami betul bahwa mentalitas juara harus dibentuk sejak dini, terlepas dari apa pun latar belakang ekonomi mereka.

Kutipan yang selalu ia pegang teguh dan sampaikan kepada murid-muridnya adalah sebuah pengingat akan pentingnya memiliki ambisi. “Kami memang belajar di lantai, tapi saya selalu bilang ke anak-anak, mimpi kita harus setinggi langit,” tutur Hikayati. Ungkapan ini menjadi mantra penyemangat bagi anak-anak di Serang untuk terus menatap masa depan dengan kepala tegak. Melalui pendidikan yang ia berikan, Hikayati bukan sekadar mengajarkan literasi agama, melainkan sedang menenun sayap-sayap mimpi agar kelak mereka bisa terbang tinggi melampaui lingkungan sederhana tempat mereka berasal.

Sinergi Kemandirian Ekonomi Melalui Pemberdayaan Kaum Perempuan

Kisah inspiratif Hikayati tidak hanya berhenti pada dedikasinya di ruang kelas. Ia juga merupakan cerminan dari sosok ibu tangguh yang memahami pentingnya kemandirian ekonomi. Sebagai salah satu perempuan binaan PNM Mekaar, Hikayati mampu mengembangkan usaha kecil-kecilan di samping kesibukannya mengajar. Hal ini menjadi krusial karena sering kali dilema antara pengabdian sosial dan kebutuhan ekonomi menjadi penghambat bagi banyak pendidik di daerah.

Dukungan dari permodalan dan pendampingan berkelanjutan yang diberikan oleh PNM memungkinkan Hikayati untuk menopang finansial keluarganya tanpa harus mengorbankan panggilan hatinya sebagai guru MDTA. Sinergi antara modal finansial dan pendampingan ini menciptakan sebuah ekosistem di mana seorang perempuan bisa berdaya secara ekonomi sekaligus bermanfaat secara sosial. Dengan memiliki usaha sendiri, Hikayati memiliki kemandirian yang membuatnya dapat fokus menjalankan tugas mulia mendidik tanpa dibayangi kecemasan akan kebutuhan dapur harian.

Harmonisasi Peran Guru Dan Ketangguhan Sosok Seorang Ibu

Integrasi antara pengabdian sebagai pengajar dan kemandirian sebagai pelaku usaha kecil merupakan manifestasi nyata dari semangat pemberdayaan. Peran ganda ini tidaklah mudah, namun Hikayati membuktikan bahwa dengan ketekunan, keduanya bisa berjalan beriringan dengan harmonis. Guru bertugas menanamkan nilai, etika, dan harapan, sementara sisi ketangguhan seorang ibu membuktikan bahwa ketahanan ekonomi keluarga adalah pondasi yang memperkuat pengabdian tersebut.

Sekretaris Perusahaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary, memberikan apresiasi mendalam terhadap pola hidup dan perjuangan yang dilakukan oleh Hikayati. Ia menegaskan pentingnya akses pemberdayaan bagi perempuan untuk memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat sekitar. “Kisah Ibu Hikayati menunjukkan bahwa saat seorang perempuan diberi akses untuk berdaya, ia tetap bisa mengabdi sambil menguatkan keluarganya. Kami percaya, ketika seorang ibu tumbuh, dampaknya terasa sampai ke anak-anak yang ia didik dan masa depan yang sedang mereka siapkan,” ujar Lalu Dodot Patria Ary.

Menjadi Cahaya Perubahan Bagi Lingkungan Masyarakat Sekitar

Pada akhirnya, perubahan besar dalam sebuah bangsa memang tidak selalu lahir dari kebijakan-kebijakan makro yang rumit, melainkan dari langkah-langkah kecil namun konsisten seperti yang dilakukan oleh Hikayati. Di ruang belajar yang sederhana itu, sedang lahir generasi yang berilmu dan berkarakter kuat. Di saat yang sama, melalui unit usaha kecilnya, Hikayati sedang membangun ketahanan ekonomi keluarga yang menjadi contoh bagi warga di sekitarnya.

Hikayati adalah representasi dari "cahaya" yang pelan namun pasti menerangi lingkungannya. Ketulusannya dalam mengajar dan ketangguhannya dalam berusaha membuktikan bahwa pengabdian dan kemandirian bukan untuk dipilih salah satu, melainkan untuk dijalankan bersama-sama. Melalui kisah ini, kita belajar bahwa meski kaki berpijak di lantai yang sederhana, pandangan mata dan cita-cita harus tetap diarahkan ke langit luas yang penuh peluang. Hikayati telah memberikan teladan bahwa kebermanfaatan sejati adalah tentang seberapa besar kita bisa memberi di tengah apa yang kita miliki.

Terkini