Sinergi Strategis PLN dan IBC: Mengakselerasi Hilirisasi Industri Baterai Terintegrasi Senilai USD 6 Miliar

Senin, 02 Februari 2026 | 11:37:54 WIB
Sinergi Strategis PLN dan IBC: Mengakselerasi Hilirisasi Industri Baterai Terintegrasi Senilai USD 6 Miliar

JAKARTA - PT PLN (Persero), dalam kapasitasnya sebagai salah satu pemegang saham utama PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC), memberikan dukungan penuh terhadap langkah kolaborasi berskala global untuk mempercepat pembangunan ekosistem baterai dari hulu hingga hilir.

Langkah besar ini diresmikan melalui penandatanganan framework agreement antara IBC, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM), dan Konsorsium HYD Investment Limited (HYD) pada Jumat (30/1/2026) di Jakarta.

Proyek ambisius ini diproyeksikan menjadi tulang punggung baru ekonomi nasional dengan nilai investasi mencapai USD 6 miliar (setara Rp94 triliun lebih). Selain dampak finansial, proyek ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi baterai listrik hingga 20 Gigawatt hour (GWh) dan mampu menyerap sekitar 10 ribu tenaga kerja baru.

Visi Hilirisasi: Prioritas Nasional dan Kemandirian Teknologi

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan implementasi langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memprioritaskan kepentingan negara dalam pengelolaan sumber daya alam.

Proyek ini akan terbagi dalam dua wilayah strategis:

Jawa Barat: Fokus pada pengembangan ekosistem baterai dan komponen katoda.

Halmahera Timur, Maluku Utara: Fokus pada pengembangan tambang, smelter, hingga pabrik hilirisasi.

Baterai Sebagai Kunci Transisi Energi Hijau

Satu hal yang menarik, pengembangan industri baterai ini tidak hanya ditujukan untuk pasar kendaraan listrik (Electric Vehicles). Pemerintah mendesain infrastruktur ini sebagai pendukung utama sistem pembangkit listrik hijau di Indonesia.

Baterai hasil produksi IBC dan mitra nantinya akan menjadi komponen vital dalam program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt (GW). Teknologi penyimpanan energi (Energy Storage System) ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas pasokan listrik dari sumber energi terbarukan yang bersifat intermiten (tergantung cuaca).

Tahapan Menuju Kedaulatan Industri Baterai

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menjelaskan bahwa framework agreement ini adalah titik awal dari perjalanan panjang. Fokus utama IBC bukan sekadar mencari mitra investasi, melainkan memastikan adanya transfer teknologi yang mumpuni.

Setelah penandatanganan ini, para mitra akan segera melakukan joint feasibility study (studi kelayakan bersama) secara mendalam, yang diharapkan dapat menghasilkan definitive agreement dalam tahun 2026 ini juga.

Dukungan PLN: Membangun Sistem Kelistrikan yang Adaptif

Bagi PLN, keberadaan industri baterai terintegrasi di dalam negeri merupakan elemen kunci untuk menciptakan sistem kelistrikan yang andal, berkelanjutan, dan berbasis produk lokal.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan bahwa penguatan ekosistem ini akan mempermudah PLN dalam mengoptimalkan pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT). Selain itu, ketersediaan baterai yang kompetitif di pasar domestik akan mempercepat adopsi kendaraan listrik di masyarakat, yang pada akhirnya memperkuat ketahanan energi nasional.

Terkini