Kebangkitan Pertanian Peudada: Ratusan Petani Bergotong Royong Sambut Berfungsinya Pompa Air

Senin, 02 Februari 2026 | 12:59:47 WIB
Kebangkitan Pertanian Peudada: Ratusan Petani Bergotong Royong Sambut Berfungsinya Pompa Air

JAKARTA - Setelah melewati masa-masa sulit selama lebih dari tiga tahun tanpa kepastian, harapan baru kini menyelimuti ribuan petani di Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen.

Pada Minggu, 1 Februari 2026, ratusan petani turun ke lapangan untuk melaksanakan aksi gotong royong massal membersihkan saluran irigasi yang telah lama terbengkalai. Aksi ini merupakan respons cepat sekaligus bentuk syukur atas terealisasinya bantuan pompa air dan pembangunan bak penampungan dari pemerintah pusat melalui Pemkab Bireuen.

Semangat kebersamaan ini menjadi titik balik bagi para petani yang telah "puasa" menanam padi selama tujuh kali musim tanam berturut-turut. Dengan alat sederhana seperti cangkul, sekop, dan parang, mereka bahu-membahu membersihkan sisa-sisa lumpur dan ilalang yang telah menutup akses air menuju persawahan.

Tragedi Tujuh Musim Tanam Tanpa Hasil Akibat Krisis Irigasi

Penderitaan para petani di Peudada bukanlah tanpa alasan. Sejak awal tahun 2024, infrastruktur vital Irigasi Hagu mengalami kerusakan parah yang memutus suplai air secara total. Di sisi lain, proyek Irigasi Aneuk Gajah Rheut yang telah dimulai sejak tahun 2017 hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.

Kombinasi antara kerusakan infrastruktur lama dan ketidaktuntasan proyek baru ini memaksa ribuan hektare sawah menjadi terlantar. Juliadi, selaku Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Peudada, mengonfirmasi bahwa selama 3,5 tahun terakhir, aktivitas pertanian di wilayah tersebut lumpuh total. Kondisi ini tidak hanya memukul ekonomi keluarga petani, tetapi juga mengancam ketahanan pangan di tingkat lokal.

Sinergi Masyarakat dan Aparat dalam Pembersihan Saluran Strategis

Kegiatan gotong royong yang berlangsung serentak ini mencakup beberapa lokasi krusial di dekat pintu air jaringan irigasi. Pantauan di lapangan menunjukkan aksi pembersihan dilakukan di kawasan Desa Meunasah Krueng, Meunasah Rabo, Meunasah Tambo, Meunasah Baroh, Meunasah Tunong, hingga Cot Keutapang. Tidak hanya petani, aksi ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai unsur kewilayahan.

Hadir di lokasi untuk mendampingi warga antara lain:

Tim Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

Personel Babinsa dan Bhabinkamtibmas.

Ketua Keujruen Blang dan jajaran perangkat desa.

Perwakilan Kantor Camat Peudada.

Optimalisasi Pompa Air: Solusi Darurat di Tengah Keterbatasan

Pembangunan bak penampungan air berukuran 10 x 10 meter di Desa Meunasah Krueng yang kini mulai berfungsi menjadi tumpuan utama. Namun, Ketua Keujruen Blang, Nasruddin, mengingatkan bahwa sumber air dari sistem pompanisasi memiliki keterbatasan debit. Air yang dialirkan tidak akan cukup kuat untuk menjangkau seluruh area persawahan jika saluran irigasi dalam kondisi tersumbat.

"Gotong royong ini dilakukan agar air dari pompa dapat tembus ke sawah-sawah seluas lebih dari 500 hektare. Mengingat debit air pompa yang terbatas, pembersihan saluran hingga ke tingkat saluran cacing sangatlah krusial," tegas Nasruddin. Kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan areal irigasi di kawasan masing-masing menjadi kunci agar air yang ada dapat terdistribusi secara adil dan merata.

Harapan Petani: Kelanjutan Infrastruktur Permanen dan Tambahan Suplai

Meski bantuan pompanisasi disambut baik sebagai solusi jangka pendek, para petani di Peudada tetap menaruh harapan besar pada solusi yang lebih permanen. Keberadaan pompa air saat ini dinilai belum mampu mengairi seluruh lahan secara maksimal. Petani mendesak pemerintah untuk segera menuntaskan pembangunan Irigasi Aneuk Gajah Rheut yang telah terbengkalai bertahun-tahun.

Selain kelanjutan proyek irigasi besar, masyarakat juga berharap adanya penambahan unit pompa dan pipa suplai untuk memperluas cakupan area pengairan. Bagi warga Peudada, kembalinya air ke sawah bukan sekadar soal bercocok tanam, melainkan kembalinya urat nadi kehidupan mereka yang sempat terputus selama tujuh musim lamanya.

Terkini