JAKARTA - Pergerakan mata uang Asia membuka pekan dengan nuansa positif, termasuk rupiah yang menunjukkan penguatan signifikan di awal perdagangan hari ini. Kondisi tersebut menjadi sorotan pelaku pasar karena terjadi di tengah dinamika global yang masih dipengaruhi sentimen moneter dan geopolitik.
Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Selasa, 3 Februari 2026. Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka terapresiasi 0,21% ke level Rp16.750/US$.
Penguatan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan Senin, 2 Februari 2026, rupiah masih berada di zona pelemahan dengan turun 0,03% di posisi Rp16.785/US$. Kondisi tersebut menunjukkan adanya pembalikan arah pergerakan di awal pekan ini.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,17% ke level 97,471. Meski terkoreksi pagi ini, secara tren dolar masih menunjukkan daya tahan setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya DXY menguat tajam 0,66% ke posisi 97,632.
Penguatan rupiah di tengah pelemahan dolar AS ini menjadi perhatian pelaku pasar. Hal ini mencerminkan adanya respons cepat pasar terhadap perubahan sentimen global.
Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan masih akan didominasi sentimen eksternal, terutama arah dolar AS dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter The Fed. Dinamika tersebut kerap menjadi penentu utama bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dolar bertahan di dekat level penguatannya setelah serangkaian pembacaan data ekonomi AS yang positif mendorong pasar menilai ulang prospek suku bunga. Meski demikian, kekhawatiran soal potensi shutdown pemerintah AS tetap membayangi.
Rupiah Menguat di Tengah Dinamika Dolar AS
Penguatan dolar semalam ditopang data manufaktur dari Institute for Supply Management (ISM) yang mengindikasikan aktivitas kembali ke jalur ekspansi. Namun, pasar juga menyoroti risiko ketidakpastian dari Washington, menyusul potensi keterlambatan rilis salah satu laporan tenaga kerja kunci akibat kebuntuan politik.
Kondisi tersebut menciptakan sentimen campuran di pasar keuangan global. Investor cenderung menimbang antara data ekonomi positif dan risiko politik yang belum sepenuhnya mereda.
Dari sisi geopolitik, tensi global cenderung mereda setelah AS mencapai kesepakatan dagang dengan India. Selain itu, AS juga menyatakan pembicaraan nuklir dengan Iran akan kembali dilanjutkan.
Situasi geopolitik yang lebih kondusif tersebut turut memberikan sentimen positif bagi pasar. Hal ini mengurangi tekanan terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Selain itu, pelaku pasar juga masih mencerna dampak politik kebijakan moneter AS setelah Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua The Fed berikutnya. Dolar cenderung menguat sejak pengumuman tersebut, karena sebagian analis menilai Warsh berpotensi tidak akan mendorong pemangkasan suku bunga secara agresif dan cepat dibanding sejumlah kandidat lain yang sebelumnya masuk bursa.
Sentimen tersebut membuat pasar menilai ulang prospek kebijakan suku bunga AS ke depan. Perubahan ekspektasi ini berdampak langsung terhadap pergerakan mata uang global.
Bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, penguatan dolar memiliki implikasi langsung. Ketika greenback diburu dan DXY menguat, tekanan pada mata uang emerging markets biasanya meningkat karena arus dana cenderung mencari aset dolar yang dinilai lebih aman.
Kondisi tersebut sering kali memicu volatilitas pada nilai tukar rupiah. Oleh sebab itu, pelaku pasar domestik terus memantau arah pergerakan dolar sebagai indikator utama.
Sentimen Global Masih Mendominasi Pergerakan Rupiah
Pergerakan rupiah hari ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor eksternal. Di satu sisi, dolar AS masih memiliki daya tahan, namun di sisi lain terdapat tekanan dari koreksi indeks dolar pagi ini.
Pelaku pasar menilai penguatan rupiah sebagai sinyal positif di awal pekan. Namun, mereka juga tetap berhati-hati karena sentimen global dapat berubah dengan cepat.
Dolar bertahan di dekat level penguatannya setelah serangkaian data ekonomi AS yang solid. Hal ini membuat sebagian investor tetap optimistis terhadap kekuatan ekonomi Amerika Serikat.
Meski demikian, kekhawatiran terkait potensi shutdown pemerintah AS masih menjadi perhatian. Risiko tersebut dinilai dapat memengaruhi stabilitas pasar keuangan global dalam jangka pendek.
Penguatan dolar semalam yang didorong oleh data ISM juga menjadi sorotan pelaku pasar. Indikator tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas manufaktur AS kembali ke jalur ekspansi.
Namun, pasar juga menunggu kepastian terkait rilis data tenaga kerja utama. Keterlambatan akibat kebuntuan politik di Washington dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter.
Di sisi geopolitik, kesepakatan dagang antara AS dan India menjadi sentimen positif. Selain itu, rencana kelanjutan pembicaraan nuklir dengan Iran turut meredakan kekhawatiran pasar.
Kondisi geopolitik yang lebih stabil ini memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat. Rupiah pun memanfaatkan momentum tersebut pada awal perdagangan hari ini.
Pasar juga mencermati dampak pencalonan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua The Fed berikutnya. Dolar cenderung menguat sejak pengumuman tersebut, karena dinilai tidak akan mendorong pemangkasan suku bunga secara agresif.
Persepsi tersebut membuat investor global menyesuaikan strategi portofolio mereka. Hal ini berdampak pada arus modal yang mengalir ke berbagai pasar, termasuk Indonesia.
Dampak bagi Pasar Domestik dan Prospek Rupiah
Bagi pasar negara berkembang, penguatan dolar memiliki implikasi langsung terhadap nilai tukar. Ketika greenback menguat, tekanan pada mata uang emerging markets biasanya meningkat karena investor mencari aset yang dianggap lebih aman.
Kondisi tersebut membuat rupiah rentan terhadap volatilitas jangka pendek. Namun, penguatan pagi ini menunjukkan adanya ruang bagi pergerakan positif di tengah dinamika global.
Selaras dengan itu, Mega Capital Sekuritas menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. "Indeks dolar terus menguat sehingga, tekanan depresiasi terhadap rupiah berpotensi berlanjut menuju rentang IDR 16.750-16.850 per USD," tulis Mega Capital Sekuritas.
Pernyataan tersebut mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar dalam memandang prospek rupiah. Meski demikian, penguatan di awal perdagangan tetap memberikan sentimen positif.
Pergerakan rupiah hari ini menjadi cerminan bagaimana pasar domestik merespons dinamika global. Kombinasi faktor moneter, geopolitik, dan data ekonomi AS terus menjadi penentu arah nilai tukar.
Pelaku pasar di Indonesia memantau perkembangan eksternal sebagai acuan utama. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi perubahan sentimen yang dapat memengaruhi stabilitas rupiah.
Meski rupiah dibuka menguat, volatilitas masih berpotensi terjadi. Faktor eksternal seperti arah kebijakan The Fed dan kondisi geopolitik global tetap menjadi sumber ketidakpastian.
Penguatan dolar yang terjadi sebelumnya juga menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang belum sepenuhnya hilang. Oleh sebab itu, pelaku pasar cenderung tetap berhati-hati dalam mengambil posisi.
Rupiah yang dibuka terapresiasi hari ini memberikan harapan bagi stabilitas pasar keuangan domestik. Namun, keberlanjutan tren tersebut masih bergantung pada perkembangan global dalam beberapa hari ke depan.
Pelaku pasar juga memperhatikan arah pergerakan indeks dolar sebagai indikator utama. Perubahan kecil pada DXY dapat berdampak signifikan terhadap mata uang negara berkembang.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif. Sentimen eksternal tetap menjadi faktor dominan dalam menentukan arah pergerakan nilai tukar.
Kondisi ini membuat pasar terus bersikap waspada terhadap perkembangan terbaru. Setiap rilis data ekonomi atau pernyataan pejabat global dapat memicu pergerakan signifikan di pasar valuta asing.
Meski demikian, penguatan rupiah pada awal perdagangan Selasa, 3 Februari 2026, memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar domestik. Momentum ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek.
Rupiah yang dibuka di level Rp16.750/US$ menunjukkan adanya optimisme pasar. Namun, pelaku pasar tetap menyiapkan strategi antisipatif terhadap potensi tekanan lanjutan.
Dengan latar belakang dinamika global yang masih kompleks, arah pergerakan rupiah akan terus dipengaruhi faktor eksternal. Oleh sebab itu, pemantauan terhadap dolar AS dan kebijakan moneter global tetap menjadi fokus utama.