JAKARTA - Pergerakan harga batu bara kembali menjadi sorotan setelah mengalami koreksi tajam usai sempat melonjak tinggi pada akhir pekan lalu. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah pergerakan komoditas energi dalam waktu dekat.
Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$116,6 per ton atau turun 1,31 persen pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026. Penurunan ini terjadi setelah harga sebelumnya melonjak 5,7 persen pada Jumat, 30 Januari 2026.
Perubahan harga yang cukup signifikan tersebut menandai adanya pergeseran sentimen pasar. Pelaku industri kini mulai menahan diri dalam melakukan transaksi besar menjelang periode liburan panjang di beberapa negara.
Tekanan utama datang dari pasar batu bara kokas China yang mulai memasuki fase lull atau cenderung lesu menjelang libur Tahun Baru Imlek pada 17 Februari 2026. Aktivitas pembelian melambat dan pergerakan harga relatif rendah di berbagai wilayah produksi utama.
Permintaan dari sektor hilir seperti pabrik baja juga mulai menurun seiring pelaku pasar mengurangi aktivitas pembelian sebelum memasuki masa liburan panjang. Kondisi ini membuat pergerakan pasar menjadi lebih berhati-hati.
Minat pembelian semakin rendah karena banyak pembeli menunda transaksi besar. Kedekatan dengan libur Imlek membuat pelaku usaha enggan mengambil posisi besar dalam waktu dekat.
Produsen pun mengambil sikap yang sama dengan berhati-hati dalam melepas stok mereka. Hal ini membuat volume perdagangan coking coal menjadi relatif tenang dan harga bergerak tanpa lonjakan berarti.
Sentimen pasar secara umum berada pada fase wait and see. Trader dan pengguna industri memilih menunggu perkembangan pascaliburan Tahun Baru Imlek sebelum kembali aktif bertransaksi.
Pasar Batu Bara China Masuki Fase Lesu Jelang Imlek
Pasar batu bara kokas di China relatif tenang dengan aktivitas perdagangan yang lesu. Perubahan harga pun terbatas akibat pelaku pasar menahan diri dan permintaan konsumen yang menurun.
Situasi ini menunjukkan bahwa penurunan harga bukan semata-mata akibat tekanan suplai, tetapi juga dipengaruhi oleh melemahnya permintaan jangka pendek. Pelaku pasar kini lebih fokus menjaga likuiditas dan stabilitas stok.
Selain faktor musiman, kondisi global juga turut memengaruhi dinamika harga batu bara. Ketidakpastian ekonomi di sejumlah kawasan membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Kondisi pasar yang cenderung tenang ini membuat fluktuasi harga bergerak dalam kisaran sempit. Namun, tekanan turun tetap terasa karena minimnya katalis positif dalam jangka pendek.
Di tengah situasi tersebut, harga batu bara yang sebelumnya sempat menembus US$118 per ton pada akhir pekan lalu kini kembali terkoreksi. Level tersebut merupakan harga tertinggi dalam satu tahun terakhir sebelum akhirnya mengalami penurunan.
Lonjakan sebelumnya didorong oleh kuatnya permintaan pembangkit listrik, terutama dari China. Kebutuhan energi yang meningkat sempat mendorong pasar memasuki fase bullish singkat.
Namun, setelah kebutuhan jangka pendek terpenuhi dan aktivitas industri mulai melambat menjelang libur panjang, tekanan jual pun kembali muncul. Hal ini menandai perubahan arah pasar dalam waktu relatif singkat.
Pelaku pasar kini memantau perkembangan permintaan pasca-Imlek sebagai indikator utama arah harga berikutnya. Jika aktivitas industri kembali meningkat, potensi pemulihan harga masih terbuka.
Energi Terbarukan Tekan Permintaan Batu Bara di Eropa
Di sisi lain, tekanan terhadap batu bara juga datang dari meningkatnya pasokan energi terbarukan di Eropa. Jerman, Prancis, dan Belanda memangkas total sekitar 3,9 TWh produksi energi terbarukan pada 2025.
Volume pemangkasan tersebut merupakan yang terbesar di antara negara-negara Eropa. Angkanya meningkat sekitar 21 persen dibandingkan 2024 seiring jam harga listrik negatif mencapai rekor tertinggi di pasar listrik kontinental.
Pemangkasan atau curtailment terjadi ketika produsen energi terbarukan seperti tenaga angin dan surya dipaksa atau memilih untuk tidak memasok listrik ke jaringan. Hal ini terjadi meskipun secara teknis mereka mampu menghasilkan lebih banyak listrik.
Kondisi tersebut biasanya disebabkan oleh kelebihan pasokan energi di jaringan. Selain itu, harga listrik negatif dan keterbatasan kapasitas penyimpanan juga turut menjadi faktor utama.
Meningkatnya pasokan energi terbarukan ini menjadi kabar buruk bagi batu bara. Pasalnya, permintaan terhadap batu bara sebagai sumber energi akan semakin melemah sehingga harga berpotensi terus tertekan.
Tekanan dari energi hijau membuat posisi batu bara semakin terdesak di pasar global. Negara-negara maju semakin agresif memperluas penggunaan sumber energi terbarukan untuk menekan emisi karbon.
Namun, transisi energi ini tidak berlangsung merata di seluruh dunia. Beberapa negara berkembang masih mengandalkan batu bara sebagai sumber energi utama karena pertimbangan biaya dan ketersediaan infrastruktur.
Ketimpangan ini membuat pasar batu bara global tetap dinamis meskipun tren jangka panjang mengarah pada penurunan konsumsi. Fluktuasi harga pun menjadi semakin sensitif terhadap perubahan kebijakan energi dan kondisi pasar regional.
China Masih Andalkan Batu Bara Meski Energi Hijau Tumbuh
China sebagai konsumen, produsen, dan importir batu bara terbesar dunia masih sangat bergantung pada batu bara. Ketergantungan ini berlangsung seiring dengan pesatnya ekspansi energi terbarukan di negara tersebut.
China bersiap mengoperasikan lebih dari 100 unit pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara tahun ini. Di samping itu, lebih dari 400 unit lainnya masih dalam tahap konstruksi.
Langkah tersebut dilakukan untuk memasok kebutuhan listrik domestik maupun ekspor. Permintaan energi yang tinggi membuat batu bara tetap menjadi tulang punggung pasokan listrik China dalam jangka menengah.
Meski demikian, Beijing telah berjanji untuk mulai mengurangi penggunaan batu bara sebelum 2030. Target tersebut menjadi bagian dari komitmen jangka panjang China dalam menekan emisi karbon dan mencapai net zero emission.
Namun, dalam jangka pendek, batu bara masih menjadi pilihan utama karena stabilitas pasokan dan biaya produksi yang relatif kompetitif. Hal ini membuat permintaan dari China tetap menjadi faktor penting dalam pergerakan harga global.
Selain China, permintaan listrik global juga terus meningkat. Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan pusat data kecerdasan buatan dan kebutuhan pengisian kendaraan listrik.
Lonjakan kebutuhan energi tersebut turut mengerek konsumsi batu bara di sejumlah negara. Meskipun energi terbarukan berkembang pesat, batu bara masih menjadi solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan energi skala besar.
Namun, kondisi ini diimbangi oleh penurunan produksi di beberapa negara produsen utama. Produksi batu bara Indonesia, misalnya, diperkirakan turun menjadi sekitar 600 juta ton tahun ini.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan hampir 800 juta ton pada tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi di tengah melemahnya impor dari China dan India.
Kondisi tersebut membuat pasokan global berpotensi menyusut meskipun permintaan tidak sepenuhnya pulih. Hal ini menciptakan keseimbangan baru yang masih sulit diprediksi dalam waktu dekat.
Fluktuasi harga batu bara pun diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Pelaku pasar terus memantau perkembangan permintaan China serta kebijakan energi global sebagai faktor penentu utama.
Harga batu bara yang sempat melonjak ke level tertinggi satu tahun terakhir kini menjelang fase konsolidasi. Pergerakan pasar akan sangat bergantung pada pemulihan aktivitas industri pascaliburan Imlek dan dinamika sektor energi global.
Koreksi harga saat ini mencerminkan kondisi pasar yang masih rapuh dan penuh ketidakpastian. Pelaku industri diharapkan tetap waspada dalam menyusun strategi bisnis ke depan.
Dengan tekanan dari energi terbarukan dan dinamika permintaan global, prospek batu bara ke depan tetap menantang. Namun, perannya sebagai sumber energi utama di beberapa negara masih memberikan ruang bagi stabilisasi harga jangka menengah.