Kenaikan Harga Batu Bara dan Mineral Menjadi Sinyal Positif bagi Ekonomi dan Industri 2026

Selasa, 03 Februari 2026 | 09:32:14 WIB
Kenaikan Harga Batu Bara dan Mineral Menjadi Sinyal Positif bagi Ekonomi dan Industri 2026

JAKARTA - Harga batu bara acuan (HBA) dengan kalori tertinggi mencatat tren kenaikan pada periode pertama Februari 2026. Angka ini menembus US$ 106,11 per ton, naik US$ 2,08 per ton dibandingkan periode kedua Januari 2026 sebesar US$ 104,03 per ton.

Kenaikan HBA terjadi secara bertahap sejak awal Januari 2026. Ketua Badan Kejuruan Pertambangan Perhimpunan Insinyur Indonesia (PII), Rizal Kasli, menyebut isu pemangkasan kuota produksi menjadi faktor utama di balik kenaikan ini.

Dampak Pemangkasan Kuota Produksi terhadap Pasar dan Negara

Indonesia sebagai eksportir batu bara terbesar dunia memiliki pengaruh besar terhadap harga global. Rizal menjelaskan, pemangkasan produksi otomatis mendorong harga batu bara ikut terkerek.

Namun, efek ini diperkirakan hanya berlangsung sampai akhir Maret 2026. “Pasar menunggu keputusan pasti pemerintah berapa kuota produksi yang diizinkan tahun ini,” ujarnya, Senin, 2 Februari 2026.

Selain memengaruhi harga, pemangkasan kuota berpotensi meningkatkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Royalti yang terkumpul bisa meningkat karena harga batu bara yang lebih tinggi.

Implikasi terhadap Tenaga Kerja dan Industri

Pemangkasan produksi juga berdampak pada tenaga kerja sektor pertambangan. Rizal menambahkan, pemilik tambang dan kontraktor kemungkinan melakukan penyesuaian jumlah pekerja sesuai skala produksi.

“Kemungkinan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila pengaruh produksi sangat signifikan,” kata Rizal. Pengurangan kuota diharapkan merata, sehingga tidak menimbulkan ketimpangan antarperusahaan.

Selain faktor kuota, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi Pertambangan, Bisman Bakhtiar, menilai kenaikan HBA dipengaruhi kombinasi faktor global. Musim dingin di belahan bumi utara dan penyesuaian pasokan global ikut mendorong harga naik.

Bisman memprediksi tren kenaikan HBA akan berlanjut hingga semester I 2026. Asalkan disiplin produksi dan permintaan regional tetap terjaga, kenaikan harga diproyeksikan lebih stabil.

Namun, Bisman mengingatkan bahwa pergerakan harga sangat sensitif terhadap kebijakan energi negara importir. Fluktuasi ekonomi global dan potensi koreksi jika pasokan longgar tetap menjadi risiko yang harus diwaspadai.

Daftar Harga Batu Bara Acuan dan Mineral Periode Februari 2026

Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 47.K/MB.01/MEM.B/2026, HBA dibedakan menjadi empat golongan. HBA dengan nilai kalor 6.322 kcal/kg GAR naik menjadi US$ 106,11 per ton dari US$ 104,03 per ton.

HBA I dengan nilai kalor 5.300 kcal/kg GAR meningkat dari US$ 71,61 per ton menjadi US$ 73,96 per ton. HBA II dengan nilai kalor 4.100 kcal/kg GAR turun tipis dari US$ 48,39 per ton menjadi US$ 48,21 per ton.

Sementara itu, HBA III dengan nilai kalor 3.400 kcal/kg GAR naik dari US$ 35,38 per ton menjadi US$ 35,83 per ton. Batu bara 6.322 kcal/kg GAR menjadi acuan harga jual untuk listrik dan bahan bakar industri, kecuali industri pengolahan dan pemurnian mineral logam.

Selain batu bara, Menteri ESDM juga menetapkan harga mineral acuan (HMA) untuk berbagai komoditas. HMA nikel dipatok US$ 17.774 per metrik ton kering (dmt), kobalt US$ 55.537 per dmt, dan timbal US$ 2.004,90 per dmt.

Daftar HMA komoditas lainnya meliputi seng US$ 3.180,40 per dmt, aluminium US$ 3.138,53 per dmt, dan tembaga US$ 13.060,87 per dmt. Emas sebagai mineral ikutan ditetapkan US$ 4.628,79 per troy ounce, sedangkan perak US$ 86,99 per troy ounce.

Harga ingot timah Pb 300, Pb 200, Pb 100, Pb 050, dan 4NINE mengikuti settlement price ICDX dan JFX pada hari penjualan. Mineral mangan ditetapkan US$ 3,48 per dmt, bijih besi laterit/hematit/magnetit US$ 1,56 per dmt, bijih krom US$ 6,37 per dmt, dan konsentrat titanium US$ 8,76 per dmt.

Kenaikan HBA menjadi sinyal positif bagi sektor energi dan industri. Produsen listrik dan industri berbasis batu bara mendapatkan kepastian harga untuk perencanaan biaya produksi dan investasi.

Tren harga batu bara yang naik juga memberikan momentum bagi pendapatan negara. Royalti dan PNBP yang meningkat akan mendukung penerimaan negara dari sektor pertambangan.

Selain itu, tren ini memberi sinyal bagi investor dan pengusaha untuk menyesuaikan strategi bisnis. Harga yang stabil memungkinkan perencanaan jangka menengah hingga panjang lebih efektif.

Pemangkasan kuota produksi yang dilakukan pemerintah juga menjadi alat pengendali pasar. Kebijakan ini membantu menstabilkan harga di tengah fluktuasi permintaan global.

Meski demikian, pasar tetap harus waspada terhadap faktor eksternal. Pergerakan ekonomi global, kebijakan energi negara importir, dan potensi suplai tambahan dari negara lain tetap memengaruhi harga batu bara.

Kesimpulannya, kenaikan HBA dan harga mineral pada awal Februari 2026 membuka peluang ekonomi dan industri. Stabilitas harga, disertai kebijakan kuota produksi yang tepat, menjadi kunci keberlanjutan sektor energi dan pertambangan Indonesia.

Terkini