Operasional Tambang GBC Pulih Bertahap, Freeport Indonesia Targetkan Kenaikan Produksi Emas

Selasa, 03 Februari 2026 | 09:53:16 WIB
Operasional Tambang GBC Pulih Bertahap, Freeport Indonesia Targetkan Kenaikan Produksi Emas

JAKARTA - PT Freeport Indonesia (PTFI) tengah bersiap untuk mengaktifkan kembali salah satu aset paling berharganya di Papua Tengah, yakni tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC).

Langkah ini diambil setelah area tambang tersebut sempat mengalami periode vakum akibat insiden tanah longsor material basah beberapa waktu lalu. Kabar mengenai beroperasinya kembali GBC pada kuartal I-2026 menjadi sinyal positif bagi industri pertambangan nasional.

Pemulihan operasional ini bukan hanya soal mengaktifkan mesin dan peralatan, tetapi juga merupakan hasil dari langkah mitigasi komprehensif yang melibatkan berbagai pihak. Kehadiran kembali tambang GBC diharapkan mampu menjadi motor utama bagi kenaikan volume produksi perusahaan yang sempat melandai akibat kendala alam tersebut.

Strategi Mitigasi dan Restu Pemerintah untuk Operasional Parsial

Upaya menghidupkan kembali tambang GBC dilakukan dengan penuh kehati-hatian. PTFI telah menjalin koordinasi intensif dengan pemerintah, tim pakar, serta tim independen untuk memastikan bahwa area tambang telah aman untuk kembali digunakan. Hasilnya, pemerintah memberikan lampu hijau bagi perusahaan untuk memulai operasional secara parsial pada akhir kuartal pertama tahun ini.

SVP Government Relation PTFI, Harry Pancasakti, menjelaskan bahwa selama GBC tidak beroperasi, perusahaan hanya mengandalkan dua tambang lain yang tidak terdampak longsor, yaitu DMLZ dan Big Gossan. Namun, kontribusi keduanya masih jauh dari kapasitas optimal perusahaan secara keseluruhan.

“Dari dua tambang ini kapasitasnya adalah 30% dari total produksi kita. Jadi kita jauh dari kapasitas normal. Nah dari yang kami sudah koordinasikan, kita konsultasikan ke pemerintah, saat ini kita masih di 30% tersebut,”.

Target Produksi dan Prioritas Penyerapan Pasar Domestik

Dengan dimulainya kembali aktivitas di tambang GBC, PTFI memproyeksikan adanya tren kenaikan produksi mulai akhir Maret hingga Desember 2026. Meski belum bisa langsung menyentuh angka 100% dari kapasitas normal, peningkatan ini menjadi krusial untuk mengejar target tahunan perusahaan, khususnya dalam produksi emas.

Harry memaparkan bahwa pada tahun 2025, PTFI berhasil memproduksi total 33 ton emas yang merupakan kombinasi dari konsentrat dan emas batangan. Untuk tahun 2026, perusahaan memiliki visi besar untuk memprioritaskan hasil tambangnya bagi kebutuhan di dalam negeri.

"Tahun 2026 ini kita expect dengan rencana proyeksi ramped up tambang GBC tadi, kita bisa produksi sekitar, yang kita jual dari domestik, kita prioritas ke domestik, dan kita sangat-sangat mendukung untuk ini bisa diserap oleh domestik, itu semuanya sekitar 26 ton," jelasnya secara rinci.

Upaya Mengembalikan Kapasitas Normal Produksi Emas

Saat ini, PTFI memang baru bisa mengoptimalkan produksi sekitar separuh dari kemampuan normal mereka. Dalam kondisi tanpa kendala, rata-rata produksi emas PTFI mampu mencapai kisaran 50 hingga 60 ton per tahun. Insiden longsor material basah di GBC diakui memberikan dampak signifikan terhadap output perusahaan secara keseluruhan.

Oleh karena itu, fase tahun 2026 dianggap sebagai periode transisi dan pemulihan. "Sehingga diharapkan nanti dengan mulai akhir kuartal I-2026 sampai ke akhir Desember 2026, kita harapkan nanti produksi sudah mulai naik, tapi tetap belum bisa mencapai 100% dari kapasitas normal," ungkap Harry lebih lanjut.

Strategi ramped up atau peningkatan bertahap ini dilakukan guna memastikan aspek keselamatan pekerja tetap menjadi prioritas utama di atas target angka produksi semata.

Proyeksi Jangka Panjang: Target 40 Ton Emas Mulai 2027

Melihat jauh ke depan, PT Freeport Indonesia telah menyusun peta jalan produksi untuk periode 2027 hingga 2029. Dengan selesainya seluruh proses penanganan dan pemulihan di tambang GBC, perusahaan optimistis level produksi akan kembali stabil dan meningkat secara konsisten.

Harry berharap, setelah melewati masa persiapan dan pemulihan operasional yang aman di tahun 2026, produksi emas dapat menyentuh angka 40 ton per tahun pada periode berikutnya. Target ini dianggap realistis seiring dengan matangnya infrastruktur tambang bawah tanah dan semakin stabilnya kondisi geoteknik di area Grasberg Block Cave.

Melalui komitmen pemulihan ini, PTFI tidak hanya berupaya memenuhi target korporasi, tetapi juga terus memperkuat perannya sebagai kontributor signifikan bagi penerimaan negara serta penyedia bahan baku emas bagi industri hilirisasi di Indonesia.

Terkini