5 Tempat Wisata Sejarah Kota Tua Jakarta yang Jadi Lokasi Syuting Film Lisa BLACKPINK

Selasa, 03 Februari 2026 | 10:24:49 WIB
5 Tempat Wisata Sejarah Kota Tua Jakarta yang Jadi Lokasi Syuting Film Lisa BLACKPINK

JAKARTA - Kawasan Kota Tua Jakarta kembali menjadi sorotan setelah dijadikan lokasi syuting film internasional yang dibintangi Lisa BLACKPINK. Idol tersebut debut dalam film berjudul Extraction: Tygo dan proses pengambilan gambar berlangsung di sejumlah titik bersejarah di Indonesia.

Salah satu area yang menjadi pusat perhatian adalah Kota Tua dan kawasan Citatah, Kabupaten Bandung. Selama syuting berlangsung, Jalan Cengkeh di Kota Tua sempat disterilkan dari pengunjung demi kelancaran proses produksi.

Jalan tersebut bahkan ditutup menggunakan tirai biru untuk menjaga keamanan kru dan pemeran. Situasi ini membuat kawasan Kota Tua terasa berbeda dari biasanya, terutama bagi wisatawan yang kerap datang ke sana.

Kota Tua sendiri dikenal sebagai destinasi wisata sejarah paling populer di Jakarta. Kawasan ini memiliki banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda yang masih terawat hingga kini, meskipun sebagian telah dialihfungsikan menjadi restoran dan tempat usaha.

Selain nilai sejarah yang kuat, Kota Tua juga menawarkan spot foto menarik dan museum edukatif. Suasana klasik yang khas menjadikan kawasan ini selalu ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan dan libur panjang.

Bagi wisatawan yang tertarik menjelajahi lokasi syuting film Lisa BLACKPINK sekaligus menikmati wisata sejarah, Kota Tua menawarkan banyak pilihan destinasi. Setiap sudut kawasan ini menyimpan cerita panjang tentang perjalanan Jakarta dari masa ke masa.

Berikut ini adalah lima rekomendasi tempat wisata sejarah di Kota Tua Jakarta yang menjadi lokasi syuting film Lisa BLACKPINK dan cocok dikunjungi untuk liburan singkat. Kelima destinasi ini menghadirkan pengalaman edukatif sekaligus visual yang menarik bagi semua kalangan.

Pesona Kota Tua Jakarta Sebagai Lokasi Syuting Internasional

Kota Tua Jakarta menjadi sorotan publik setelah digunakan sebagai lokasi syuting film Extraction: Tygo yang dibintangi Lisa BLACKPINK. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan bersejarah ini memiliki daya tarik visual yang kuat hingga menarik perhatian industri perfilman internasional.

Proses syuting di Kota Tua berlangsung dengan pengamanan ketat, terutama di Jalan Cengkeh yang disterilkan dari aktivitas umum. Langkah ini dilakukan demi menjaga keamanan kru film dan memastikan proses pengambilan gambar berjalan lancar.

Situasi tersebut membuat kawasan Kota Tua terlihat lebih tertata dan berbeda dari biasanya. Meski demikian, daya tarik bangunan klasik dan suasana tempo dulu tetap terasa kuat bagi siapa pun yang melihatnya.

Kota Tua dikenal sebagai kawasan yang menyimpan banyak bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda. Bangunan-bangunan ini tidak hanya menjadi saksi sejarah, tetapi juga telah diadaptasi menjadi ruang publik yang ramah wisatawan.

Sebagian bangunan lama kini difungsikan sebagai museum, restoran, kafe, hingga pusat seni dan budaya. Hal ini membuat kawasan Kota Tua tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai historisnya.

Selain itu, Kota Tua juga menjadi salah satu destinasi favorit untuk wisata foto dan jalan santai. Arsitektur klasik dan suasana vintage menjadikannya latar yang ideal untuk kegiatan kreatif, termasuk produksi film internasional.

Keberhasilan Kota Tua menjadi lokasi syuting film besar semakin mengukuhkan posisinya sebagai ikon wisata sejarah Jakarta. Wisatawan kini tidak hanya datang untuk belajar sejarah, tetapi juga ingin merasakan suasana lokasi syuting artis dunia.

Dengan berbagai daya tarik tersebut, Kota Tua terus berkembang sebagai destinasi wisata yang memadukan nilai edukasi dan hiburan. Hal ini menjadikannya pilihan tepat untuk liburan singkat maupun kunjungan tematik bertema sejarah dan budaya.

Museum Ikonik di Kota Tua yang Wajib Dikunjungi

Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta merupakan ikon utama Kota Tua. Bangunan ini dulunya adalah Balai Kota Batavia yang dibangun pada tahun 1710 dan masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Kini Museum Fatahillah menyimpan berbagai koleksi peninggalan sejarah masa kolonial. Koleksi tersebut mencakup peta kuno, mebel antik, hingga meriam legendaris Si Jagur yang menjadi daya tarik tersendiri.

Halaman depan museum yang luas sering dimanfaatkan sebagai tempat bersantai oleh pengunjung. Banyak wisatawan juga memanfaatkannya sebagai latar foto dengan bangunan klasik khas era kolonial.

Museum Wayang menjadi destinasi berikutnya yang tidak boleh dilewatkan, terutama bagi pecinta seni dan budaya. Museum ini menyimpan koleksi wayang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti wayang kulit, wayang golek, hingga wayang beber.

Tak hanya koleksi lokal, museum ini juga menampilkan wayang dari berbagai negara. Bangunan museum yang artistik menambah daya tarik bagi pengunjung yang ingin belajar sekaligus menikmati wisata budaya.

Museum Bank Indonesia menawarkan pengalaman wisata edukatif yang modern dan interaktif. Pengunjung dapat mempelajari sejarah sistem keuangan dan perbankan Indonesia dari masa kolonial hingga era digital.

Dengan tampilan visual menarik dan teknologi multimedia, museum ini cocok dikunjungi oleh semua kalangan. Koleksi uang kartal yang pernah diterbitkan Bank Indonesia sejak masa lampau juga menjadi daya tarik utama.

Tidak jauh dari sana, terdapat Museum Bank Mandiri yang juga tak kalah menarik untuk dikunjungi. Museum ini menampilkan sejarah perbankan melalui bangunan megah bergaya Eropa yang masih mempertahankan interior aslinya.

Koleksi mesin hitung kuno, brankas besar, dan arsip perbankan lama memberikan gambaran tentang aktivitas perbankan di masa lalu. Suasana klasik di dalam museum membuat pengunjung seolah kembali ke era kolonial.

Keempat museum tersebut menghadirkan pengalaman wisata sejarah yang beragam dan saling melengkapi. Pengunjung dapat menjelajahi sejarah kota, seni budaya, hingga perkembangan ekonomi dalam satu kawasan.

Dengan lokasi yang saling berdekatan, wisatawan dapat mengunjungi beberapa museum sekaligus dalam satu hari. Hal ini membuat wisata di Kota Tua terasa efisien dan tetap menyenangkan.

Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari, Jejak Maritim Jakarta

Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan saksi bisu perkembangan perdagangan Jakarta sejak abad ke-16. Di kawasan ini, pengunjung dapat melihat kapal-kapal pinisi tradisional yang masih aktif digunakan hingga kini.

Suasana pelabuhan yang autentik sangat cocok untuk fotografi, terutama saat sore hari menjelang matahari terbenam. Cahaya senja yang memantul di permukaan laut menciptakan pemandangan yang memikat.

Pelabuhan Sunda Kelapa juga memberikan gambaran nyata tentang aktivitas maritim yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Hal ini menjadikannya destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin memahami sejarah perdagangan nusantara.

Tidak jauh dari pelabuhan, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke Museum Bahari. Museum ini menempati bangunan gudang rempah peninggalan kolonial yang masih terawat hingga sekarang.

Di kompleks Museum Bahari, terdapat menara syah bandar yang dapat dinaiki untuk melihat pemandangan kota dari atas. Dari menara ini, pengunjung dapat menikmati panorama kawasan pelabuhan dan sekitarnya.

Museum Bahari juga menyimpan berbagai koleksi benda maritim peninggalan masa lampau. Koleksi tersebut mencakup peralatan navigasi, model kapal, hingga artefak perdagangan laut.

Kehadiran museum ini melengkapi pengalaman wisata di Pelabuhan Sunda Kelapa. Pengunjung tidak hanya menikmati suasana pelabuhan, tetapi juga memperoleh wawasan tentang sejarah kemaritiman Indonesia.

Kombinasi Pelabuhan Sunda Kelapa dan Museum Bahari memberikan pengalaman wisata sejarah yang berbeda dari museum di pusat Kota Tua. Nuansa pesisir dan aktivitas kapal menjadikan suasana lebih hidup dan dinamis.

Destinasi ini cocok dikunjungi oleh wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Jakarta yang jarang terekspos. Selain itu, kawasan ini juga menawarkan banyak spot foto dengan latar kapal pinisi dan bangunan tua.

Dengan nilai sejarah yang kuat dan suasana yang khas, Pelabuhan Sunda Kelapa serta Museum Bahari menjadi pelengkap sempurna dalam wisata Kota Tua. Kedua tempat ini memperkaya pemahaman tentang peran Jakarta dalam sejarah maritim nusantara.

Kota Tua sebagai Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya Populer

Kota Tua Jakarta terus mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi wisata sejarah paling populer di ibu kota. Kawasan ini menawarkan kombinasi bangunan kolonial, museum, dan ruang publik yang ramah wisatawan.

Selain nilai sejarah, Kota Tua juga dikenal sebagai pusat aktivitas seni dan budaya. Berbagai pertunjukan musik jalanan, pameran seni, hingga acara komunitas sering digelar di kawasan ini.

Kehadiran film internasional yang melakukan syuting di Kota Tua semakin meningkatkan daya tarik kawasan ini. Wisatawan kini tidak hanya tertarik pada sejarahnya, tetapi juga pada nilai hiburan dan popularitas globalnya.

Jalan Cengkeh yang sempat disterilkan selama proses syuting menjadi salah satu titik yang menarik perhatian publik. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kawasan Kota Tua sebagai lokasi strategis untuk produksi film berskala besar.

Meski sempat ditutup sementara, kawasan Kota Tua kembali ramai dikunjungi setelah proses syuting selesai. Wisatawan tetap antusias menikmati suasana klasik yang menjadi ciri khas kawasan ini.

Kota Tua juga menjadi pilihan favorit untuk liburan singkat karena lokasinya yang mudah dijangkau. Transportasi umum yang memadai membuat kawasan ini dapat diakses dengan nyaman dari berbagai penjuru Jakarta.

Bagi keluarga, Kota Tua menawarkan wisata edukatif yang bermanfaat bagi anak-anak. Museum dan bangunan bersejarah di kawasan ini menjadi sarana belajar yang menyenangkan di luar ruang kelas.

Bagi generasi muda, Kota Tua menjadi tempat ideal untuk berburu foto dan menikmati suasana retro. Banyak spot ikonik yang cocok untuk konten media sosial dengan latar bangunan klasik dan suasana tempo dulu.

Dengan berbagai daya tarik tersebut, Kota Tua tidak hanya menjadi saksi sejarah masa lalu, tetapi juga ruang publik yang hidup di masa kini. Kawasan ini terus berkembang tanpa meninggalkan identitas historisnya.

Lima destinasi wisata sejarah di Kota Tua yang telah disebutkan memberikan gambaran lengkap tentang kekayaan budaya dan sejarah Jakarta. Mulai dari museum, pelabuhan, hingga bangunan kolonial, semuanya menawarkan pengalaman yang berbeda.

Bagi wisatawan yang ingin menjelajahi lokasi syuting film Lisa BLACKPINK sekaligus menikmati wisata sejarah, Kota Tua adalah pilihan yang tepat. Kawasan ini menyajikan kombinasi unik antara nilai edukatif dan daya tarik hiburan.

Itulah lima rekomendasi wisata sejarah di Kota Tua, tempat syuting film Lisa BLACKPINK. Destinasi ini cocok untuk dikunjungi saat liburan singkat maupun akhir pekan bersama keluarga dan teman.

Terkini