Visi Strategis Hilirisasi: Pemerintah Pacu Ekosistem Baterai Listrik Terintegrasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 13:23:44 WIB
Visi Strategis Hilirisasi: Pemerintah Pacu Ekosistem Baterai Listrik Terintegrasi

JAKARTA - Pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi sebagai pilar baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Langkah ambisius ini bukan sekadar upaya mengikuti tren global, melainkan strategi nyata dalam mempercepat agenda hilirisasi mineral strategis guna mengubah wajah industri dalam negeri.

Melalui sinergi antara Grup MIND ID, PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan konsorsium Huayou (HYD), ekosistem baterai EV digarap secara komprehensif dari hulu ke hilir. Rantai industri yang sangat masif ini meliputi kegiatan pertambangan nikel, pembangunan fasilitas smelter dengan teknologi high pressure acid leaching (HPAL), hingga produksi prekursor, katoda, dan manufaktur sel baterai di tahap akhir.

Hilirisasi Mineral: Instrumen Utama Penguatan Ekonomi dan Industri Strategis

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pengembangan ini merupakan instrumen vital dalam penguatan struktur ekonomi bangsa.

Transformasi dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi produsen komponen bernilai tinggi adalah kunci kemandirian. “Hilirisasi harus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat industri strategis di dalam negeri,” ungkap Bahlil usai penandatanganan kesepakatan konsorsium ANTAM–IBI–HYD di Jakarta, beberapa hari lalu.

Proyek mercusuar ini diperkirakan menelan nilai investasi hingga 6 miliar dolar AS. Sebagai langkah awal, fasilitas berkapasitas 10 gigawatt (GW) telah beroperasi sejak tahun 2023. Capaian tersebut menjadi fondasi kuat untuk melakukan ekspansi tahap lanjutan yang ditargetkan menambah kapasitas produksi sebesar 20 GW. Ekspansi ini sangat krusial untuk mengukuhkan posisi Indonesia dalam rantai pasok energi hijau dunia di tengah lonjakan permintaan global.

Kedaulatan Energi: Mandat Konstitusi dan Kepemilikan Mayoritas Negara

Salah satu poin paling krusial dalam kebijakan ini adalah penegasan kedaulatan negara atas sumber daya alam.

 Mengikuti mandat konstitusi, pemerintah menetapkan bahwa kendali atas industri strategis ini harus tetap berada di tangan bangsa sendiri. Porsi kepemilikan negara ditargetkan berada di atas 50 persen, bahkan diproyeksikan mencapai kisaran 60 hingga 70 persen.

Bahlil menekankan bahwa strategi ini merupakan pengejawantahan dari Pasal 33 UUD 1945. “Ini implementasi Pasal 33. Kekayaan alam dikelola negara dan diprioritaskan untuk kemakmuran rakyat,” tegasnya. Dengan menguasai nikel sebagai bahan baku utama melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), keberlanjutan pasokan domestik dapat terjamin tanpa ketergantungan penuh pada pihak luar.

Akselerasi Teknologi: Keberlanjutan Proyek Titan dan Kemandirian Industri

Selain aspek ekonomi, penguasaan teknologi menjadi fokus yang tidak terpisahkan. Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, memandang kerja sama dengan Huayou sebagai katalisator untuk memperkuat fondasi teknologi dalam negeri. Kolaborasi ini merupakan kelanjutan dari kemitraan sebelumnya dan menjadi bagian dari misi besar nasional.

“Misi utama IBC menyukseskan proyek Dragon dan Titan. Kolaborasi dengan Huayou melanjutkan proyek Titan setelah sebelumnya bersama LG,” tutur Aditya. Bagi IBC, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan penguasaan manufaktur adalah harga mati. Hal ini bertujuan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain yang memiliki kapabilitas industri berkelanjutan secara mandiri.

Membangun Masa Depan: Dampak Luas Bagi Daerah dan Ketahanan Nasional

Ke depan, pemerintah optimis bahwa ekosistem baterai EV akan menjadi mesin pertumbuhan baru yang berbasis pada nilai tambah tinggi. Manfaatnya diharapkan tidak hanya terkonsentrasi di pusat, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi di daerah-daerah penghasil mineral dan lokasi industri.

Bahlil menyampaikan bahwa dampak luas dari rantai industri ini akan menyentuh berbagai aspek kehidupan bernegara. “Nilai tambah mineral meningkat, pertumbuhan ekonomi daerah bergerak, ketahanan energi nasional ikut menguat,” tutupnya. Dengan strategi yang matang, Indonesia kini tengah bersiap memperkokoh struktur ekonominya guna menghadapi tantangan persaingan global di masa depan.

Terkini