Kenaikan Harga Batu Bara Februari 2026 dan Strategi Pemerintah Menjaga Nilai Komoditas Nasional

Selasa, 03 Februari 2026 | 14:38:07 WIB
Kenaikan Harga Batu Bara Februari 2026 dan Strategi Pemerintah Menjaga Nilai Komoditas Nasional

JAKARTA - Harga batu bara acuan (HBA) untuk periode I Februari 2026 naik menjadi 106,11 dolar AS per ton. Angka ini meningkat dari HBA periode II Januari 2026 yang tercatat sebesar 104,03 dolar AS per ton.

Kenaikan ini menandai dinamika pasar batu bara yang terus bergerak seiring permintaan global. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan langkah pengendalian produksi sebagai strategi menjaga harga tetap kompetitif.

Perubahan HBA Berdasarkan Nilai Kalori

Selain HBA dengan nilai kalor 6.322 kcal/kg yang mengalami kenaikan, kategori lain juga menunjukkan fluktuasi. HBA I (5.300 GAR) naik menjadi 73,96 dolar AS per ton dari 71,61 dolar AS pada Januari 2026.

Sementara HBA II (4.100 GAR) mengalami sedikit penurunan menjadi 48,21 dolar AS per ton dari 48,39 dolar AS sebelumnya. HBA III (3.400 GAR) juga naik menjadi 35,83 dolar AS per ton dari 35,38 dolar AS pada periode sebelumnya.

Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 47.K/MB.01/MEM.B/2026 yang berlaku untuk 1 Februari hingga 14 Februari 2026. Penetapan harga ini menjadi acuan bagi pelaku industri dan eksportir batu bara di Indonesia.

Strategi Pemangkasan Produksi Batu Bara

Pada awal 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah akan memangkas produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton. Angka ini turun hampir 200 juta ton dibandingkan produksi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton.

Langkah pemangkasan produksi ditujukan untuk menjaga harga komoditas di pasar global. Saat ini, perdagangan batu bara global mencapai sekitar 1,3 miliar ton per tahun, sehingga oversupply dapat menekan harga.

Indonesia menyumbang sekitar 514 juta ton dari total perdagangan global tersebut. Tingginya porsi ini membuat pergerakan harga batu bara sangat dipengaruhi oleh keputusan produksi nasional.

Bahlil menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Ia menyebut, produksi batu bara harus diatur agar tambang tetap produktif dan harga tetap bagus untuk warisan generasi mendatang.

Dampak Kenaikan HBA pada Industri dan Ekonomi

Kenaikan HBA berpotensi meningkatkan pendapatan dari ekspor batu bara. Hal ini juga menjadi indikator positif bagi perusahaan tambang yang mengandalkan harga global sebagai patokan pendapatan mereka.

Namun, fluktuasi harga juga menuntut pengelolaan stok dan distribusi yang tepat. Pemerintah mengingatkan agar perusahaan tidak hanya fokus menjual saat harga tinggi, tetapi juga menjaga pasokan domestik.

Pemangkasan produksi diharapkan mampu menyeimbangkan antara kebutuhan pasar global dan domestik. Strategi ini juga bertujuan untuk menghindari penurunan harga secara drastis yang dapat merugikan semua pihak.

Selain itu, kenaikan harga batu bara dapat berdampak pada tarif bea keluar. Penyesuaian bea keluar ini menjadi salah satu instrumen pemerintah dalam mengatur ekspor dan menjaga nilai ekonomi komoditas nasional.

Proyeksi Harga dan Pasokan Batu Bara ke Depan

Dengan langkah pemangkasan produksi, pemerintah optimis harga batu bara dapat meningkat. Kebijakan ini juga menjadi sinyal kepada investor bahwa sumber daya alam dikelola dengan strategi jangka panjang.

Tingginya porsi Indonesia dalam perdagangan global membuat setiap kebijakan produksi memiliki dampak besar terhadap harga dunia. Oleh karena itu, koordinasi dengan pelaku industri dan asosiasi tambang menjadi kunci keberhasilan kebijakan ini.

Bahlil menekankan bahwa pengelolaan batu bara harus mempertimbangkan keberlanjutan. "Supaya harga bagus dan tambang ini juga kita harus wariskan kepada anak cucu kita," ujarnya.

Dengan pengaturan produksi yang cermat, Indonesia mampu menjaga posisi kompetitif di pasar global. Langkah ini juga mengurangi risiko oversupply yang dapat menekan harga batu bara di pasar internasional.

Kenaikan HBA pada Februari 2026 menjadi bukti bahwa strategi pemerintah memberikan dampak positif. Harga komoditas yang stabil mencerminkan langkah-langkah pemangkasan produksi yang dijalankan dengan hati-hati.

Selain menjaga harga, pemangkasan produksi juga mempertimbangkan kebutuhan energi nasional. Batu bara tetap dialokasikan untuk pasokan listrik dalam negeri agar tidak terjadi kekurangan energi.

Industri tambang juga harus mematuhi regulasi terkait produksi dan ekspor. Kepatuhan ini menjadi syarat agar strategi pengendalian harga berjalan efektif dan sesuai rencana pemerintah.

Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah, pelaku industri, dan asosiasi tambang, harga batu bara diharapkan tetap stabil sepanjang 2026. Strategi ini sekaligus memberikan kepastian bagi investor dan pasar global mengenai komitmen Indonesia.

Pemangkasan produksi tidak berarti menurunkan kontribusi Indonesia terhadap perdagangan global. Sebaliknya, langkah ini membuat posisi Indonesia lebih strategis dan harga batu bara tetap menguntungkan secara ekonomi.

Selain itu, pemerintah terus memantau pergerakan harga di pasar internasional. Hal ini dilakukan agar setiap kebijakan yang diambil relevan dengan kondisi pasar dan tidak merugikan pihak manapun.

Dengan pengelolaan yang tepat, Indonesia mampu mempertahankan harga batu bara di level kompetitif. Kebijakan ini sekaligus menunjukkan kemampuan pemerintah dalam mengatur sumber daya alam dengan bijaksana.

Terkini