JAKARTA - Industri otomotif nasional belakangan mengalami dinamika yang cukup signifikan. Kemunculan berbagai merek mobil baru, termasuk pabrikan asal China, membuat pasar semakin ramai.
Mobil-mobil baru tersebut hadir dengan harga yang relatif lebih rendah. Kondisi ini membuat persaingan di pasar otomotif menjadi semakin kompetitif.
Harga yang lebih terjangkau membuka peluang baru bagi konsumen. Minat masyarakat terhadap pembelian kendaraan pun berpotensi meningkat.
PT Astra Sedaya Finance atau Astra Credit Companies (ACC) memandang fenomena tersebut sebagai peluang. Perseroan menilai persaingan harga bukan sekadar tantangan.
ACC melihat kondisi ini sebagai momentum untuk mendorong pembiayaan kendaraan. Harga mobil yang semakin terjangkau dinilai dapat memperluas basis konsumen.
"Sebab, ada peluang banyak orang akan melakukan pembiayaan dengan harga mobil yang makin terjangkau," ungkap EVP Corporate Communication & Strategy ACC Riadi Prasodjo. Pernyataan tersebut disampaikan kepada Kontan pada Senin, 2 Februari 2026.
Riadi menilai kehadiran mobil murah membuka akses pembelian kendaraan bagi segmen baru. Hal ini berpotensi meningkatkan permintaan pembiayaan kendaraan.
Menurutnya, persaingan harga yang semakin ketat masih berpotensi berlanjut sepanjang tahun ini. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menekan kinerja multifinance.
Strategi ACC Menghadapi Ketatnya Persaingan Harga Mobil
Riadi menjelaskan tekanan terhadap pembiayaan kendaraan multifinance dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Persaingan harga bukan satu-satunya penentu kinerja pembiayaan.
Faktor ekonomi makro, daya beli masyarakat, serta kondisi industri juga memiliki peran penting. Oleh karena itu, ACC tidak melihat persaingan harga sebagai ancaman utama.
ACC justru memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat strategi bisnis. Perseroan menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga kinerja pembiayaan kendaraan.
Untuk mendorong kinerja pembiayaan kendaraan pada 2026, ACC menerapkan strategi yang terukur. Strategi tersebut difokuskan pada pengelolaan portofolio yang prudent.
Selain itu, ACC juga memperkuat kerja sama dengan mitra bisnis. Kolaborasi dengan dealer dan agen penjualan menjadi salah satu fokus utama.
Riadi menyebut ACC juga menghadirkan inovasi pada produk dan layanan. Inovasi ini ditujukan untuk menjawab kebutuhan konsumen yang semakin beragam.
"Ditambah, melakukan penyesuaian skema pembiayaan yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," ucap Riadi. Prinsip kehati-hatian tetap menjadi fondasi utama ACC.
Penyesuaian skema pembiayaan dilakukan agar tetap sejalan dengan profil risiko. ACC memastikan kualitas pembiayaan tetap terjaga.
Pendekatan prudent ini dinilai penting di tengah persaingan industri. Perseroan ingin menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset.
ACC menilai inovasi produk menjadi kunci untuk menarik minat konsumen. Skema pembiayaan yang fleksibel dapat meningkatkan daya tarik.
Kerja sama dengan mitra juga terus dievaluasi. ACC memastikan setiap kolaborasi memberikan nilai tambah bagi seluruh pihak.
Kinerja Pembiayaan dan Tantangan Industri Multifinance
Riadi mengungkapkan sepanjang tahun 2025, ACC mencatatkan penyaluran pembiayaan yang solid. Total pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp40 triliun.
Capaian tersebut menunjukkan kinerja ACC tetap terjaga di tengah dinamika industri. Perseroan mampu mempertahankan volume pembiayaan.
Namun, secara industri, pembiayaan mobil baru multifinance menghadapi tekanan. Data Otoritas Jasa Keuangan mencatat adanya kontraksi.
Per November 2025, pembiayaan mobil baru multifinance tercatat terkontraksi 4,65% secara tahunan. Nilai pembiayaan mencapai Rp142,59 triliun.
Kondisi tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi industri. Meski demikian, ACC melihat peluang masih terbuka.
Riadi menilai permintaan pembiayaan kendaraan masih memiliki potensi. Harga mobil yang lebih kompetitif dapat mendorong minat konsumen.
ACC melihat segmen pembeli baru menjadi target potensial. Konsumen yang sebelumnya menunda pembelian kini memiliki kesempatan.
Harga mobil yang lebih rendah membuat cicilan lebih terjangkau. Hal ini meningkatkan daya tarik pembiayaan kendaraan.
ACC menegaskan strategi yang dijalankan tetap fokus pada kualitas. Pertumbuhan pembiayaan harus sejalan dengan pengelolaan risiko.
Perseroan tidak ingin mengejar pertumbuhan agresif tanpa perhitungan. Prinsip kehati-hatian menjadi pegangan utama.
Riadi menyebutkan persaingan harga dapat mendorong efisiensi industri. Pelaku multifinance dituntut lebih inovatif dan adaptif.
ACC menilai kehadiran merek baru dapat memperluas pasar. Segmentasi konsumen menjadi semakin beragam.
Dengan strategi yang tepat, kondisi ini bisa dimanfaatkan. ACC ingin menjadi mitra pembiayaan pilihan konsumen.
Perseroan juga terus memantau perkembangan industri otomotif. Perubahan tren pasar menjadi perhatian utama.
ACC berkomitmen menyesuaikan strategi sesuai dinamika pasar. Fleksibilitas menjadi kunci menghadapi persaingan.
Riadi menegaskan bahwa pembiayaan kendaraan masih relevan. Kebutuhan mobilitas masyarakat tetap tinggi.
Dengan harga mobil yang semakin kompetitif, pembiayaan menjadi solusi. ACC melihat ini sebagai peluang jangka menengah.
Perseroan optimistis mampu menjaga kinerja di tengah persaingan. Pengalaman dan jaringan menjadi keunggulan ACC.
ACC menilai sinergi dengan grup Astra juga menjadi kekuatan. Hal ini mendukung stabilitas bisnis pembiayaan.
Riadi menutup dengan menekankan pentingnya strategi berimbang. Pertumbuhan, kualitas, dan kehati-hatian harus berjalan seiring.