JAKARTA - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menunjukkan taringnya kembali. Pada perdagangan Selasa (3 Februari 2026), IHSG melesat 1,57% ke level 8.047,22 pada pukul 13.10 WIB.
Meskipun pasar sedang dalam tren pemulihan (rebound), bayang-bayang volatilitas ekstrem yang terjadi beberapa waktu lalu masih segar dalam ingatan para pelaku pasar.
Menyikapi dinamika ini, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menyarankan investor untuk tetap waspada dan mulai melirik aset safe haven atau instrumen berpendapatan tetap. Strategi ini dianggap krusial untuk menjaga stabilitas portofolio dari potensi guncangan indeks saham yang tidak terduga.
Tiga Instrumen Utama Penjaga Portofolio
Chory Agung Ramdhani, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRIDS, menekankan bahwa pilihan instrumen saat ini harus difokuskan pada perlindungan nilai dan likuiditas. Berikut adalah tiga aset rekomendasi utama:
Emas: Dipilih sebagai instrumen lindung nilai (hedging) klasik. Emas memiliki potensi kenaikan (capital gain) antara 10% hingga 15% jika ketidakpastian pasar saham terus berlanjut hingga pertengahan tahun ini.
Surat Berharga Negara (SBN) Ritel: Instrumen seperti ORI atau Sukuk Ritel dinilai sangat aman karena bebas risiko gagal bayar. Dengan pajak obligasi yang kini lebih rendah dari bunga deposito, SBN menawarkan imbal hasil bersih yang sangat kompetitif.
Reksadana Pasar Uang: Menjadi solusi terbaik untuk menjaga likuiditas dengan risiko penurunan nilai yang sangat minimal.
Panduan Investasi Berdasarkan Horizon Waktu
BRI Danareksa juga memberikan peta jalan investasi yang disesuaikan dengan target jangka waktu investor agar hasil yang didapat lebih optimal:
| Jangka Waktu | Instrumen Rekomendasi | Estimasi Imbal Hasil (Per Tahun) |
|---|---|---|
| Pendek (< 1 Tahun) | Reksadana Pasar Uang & Deposito | 4,5% – 5,5% |
| Menengah (1 – 3 Tahun) | SBN Ritel (ORI/SR) & Obligasi Negara | 6,0% – 6,5% |
| Panjang (> 5 Tahun) | Akumulasi Emas Secara Bertahap | Potensi pertumbuhan melampaui inflasi |