Kemenkes Menekankan Pentingnya Puasa Yang Benar Dalam Menjaga Kesehatan Mental Di Era Modern

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:25:31 WIB
Kemenkes Menekankan Pentingnya Puasa Yang Benar Dalam Menjaga Kesehatan Mental Di Era Modern

JAKARTA - Memasuki bulan suci Ramadan 2026, tantangan yang dihadapi masyarakat urban tidak hanya terbatas pada masalah kesehatan fisik, tetapi juga tekanan mental yang kian kompleks.

Kecepatan arus informasi, tuntutan produktivitas yang tinggi, dan dinamika sosial di era digital sering kali memicu stres kronis dan kecemasan. Menanggapi hal ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengeluarkan tinjauan menarik yang menyoroti bahwa ibadah puasa, jika dijalankan dengan tata cara yang benar, dapat menjadi instrumen pemulihan (healing) yang efektif untuk menghadapi tantangan mental di masa kini.

Puasa bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah metode detoksifikasi menyeluruh bagi jiwa dan pikiran. Kemenkes menekankan bahwa korelasi antara pola makan, disiplin diri, dan ketenangan spiritual selama Ramadan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap stabilitas emosional. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba instan, puasa melatih individu untuk kembali menguasai kendali atas diri sendiri, yang merupakan fondasi utama dari kesehatan mental yang tangguh.

Mekanisme Biologis Puasa Dalam Menurunkan Tingkat Stres Dan Kecemasan

Secara medis, Kemenkes menjelaskan bahwa puasa yang dilakukan dengan asupan nutrisi seimbang dapat membantu menstabilkan kadar hormon dalam tubuh. Saat seseorang berpuasa, tubuh mengalami penurunan kadar hormon kortisol yang merupakan pemicu utama stres. Di sisi lain, pembatasan asupan kalori secara teratur diketahui dapat meningkatkan produksi protein Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Protein ini berperan penting dalam memicu pertumbuhan sel saraf baru dan meningkatkan fungsi kognitif, sehingga seseorang menjadi lebih fokus dan tenang dalam mengambil keputusan.

Selain itu, puasa memberikan waktu istirahat bagi sistem pencernaan yang memiliki hubungan erat dengan otak melalui gut-brain axis. Pencernaan yang lebih tenang selama berpuasa membantu produksi neurotransmiter seperti serotonin—hormon kebahagiaan—menjadi lebih optimal. Dampaknya, individu yang menjalankan puasa dengan benar cenderung merasa lebih bahagia, memiliki kontrol emosi yang lebih baik, dan mampu mereduksi gangguan kecemasan yang sering muncul akibat tekanan pekerjaan atau masalah personal.

Disiplin Spiritual Sebagai Sarana Melatih Kesabaran Dan Resiliensi

Dari sudut pandang psikologis, aspek spiritual dalam ibadah puasa berperan sebagai sarana latihan kesabaran (self-regulation). Kemenkes menggarisbawahi bahwa menahan diri dari dorongan biologis sejak fajar hingga terbenam matahari melatih otot mental untuk tidak bersikap impulsif. Di era modern di mana setiap orang menginginkan kepuasan instan (instant gratification), puasa memaksa kita untuk belajar menunda kepuasan, yang pada gilirannya meningkatkan ketahanan mental atau resiliensi dalam menghadapi kesulitan hidup.

Ibadah puasa juga sering kali disertai dengan peningkatan aktivitas sosial yang positif, seperti berbagi makanan atau beribadah berjamaah. Interaksi sosial yang hangat dan penuh empati ini merupakan faktor pelindung bagi kesehatan mental. Rasa kebersamaan dan keterikatan sosial selama bulan Ramadan membantu mengurangi perasaan terisolasi atau kesepian, yang merupakan salah satu akar masalah kesehatan mental di kota-kota besar. Dengan memperkuat hubungan antarsisila, puasa membantu menciptakan ekosistem sosial yang mendukung kesehatan jiwa secara kolektif.

Pentingnya Pola Istirahat Dan Nutrisi Untuk Keberhasilan Detoks Mental

Kemenkes juga mengingatkan bahwa manfaat kesehatan mental dari puasa tidak akan tercapai secara maksimal jika pola hidup selama Ramadan justru menjadi berantakan. Kurang tidur akibat manajemen waktu sahur yang buruk atau mengonsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan saat berbuka dapat memicu fluktuasi suasana hati (mood swing) dan rasa lemas yang berkepanjangan. Oleh karena itu, pengaturan waktu istirahat yang cukup tetap menjadi prioritas agar fungsi otak tetap terjaga selama menjalankan ibadah.

Kecukupan hidrasi dan konsumsi sayuran serta buah-buahan saat sahur dan berbuka sangat menentukan bagaimana tubuh memproses energi. Tubuh yang ternutrisi dengan baik akan mendukung kerja sistem saraf yang stabil. Kemenkes menyarankan agar masyarakat tidak menjadikan waktu berbuka sebagai ajang pelampiasan nafsu makan, karena beban pencernaan yang terlalu berat justru dapat memicu rasa malas dan menurunkan produktivitas, yang pada akhirnya bisa berujung pada rasa bersalah atau stres tambahan.

Puasa Sebagai Momentum Transformasi Diri Menuju Pribadi Yang Seimbang

Sebagai penutup, pesan utama yang ingin disampaikan oleh Kemenkes adalah menjadikan puasa Ramadan 2026 sebagai momentum transformasi diri. Dengan mengintegrasikan disiplin fisik, ketenangan batin, dan pola makan sehat, puasa dapat menjadi terapi pelengkap yang luar biasa bagi kesehatan mental. Melalui puasa, kita diajak untuk kembali ke fitrah manusia yang mampu mengendalikan keinginan, bukan dikendalikan olehnya.

Kemenkes berharap masyarakat dapat memandang Ramadan bukan sebagai beban yang melelahkan, melainkan sebagai kesempatan emas untuk melakukan "reset" terhadap kesehatan jiwa. Dengan mental yang sehat dan stabil, setiap individu akan lebih siap dalam menghadapi tantangan era modern yang dinamis dan penuh tekanan. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga ketenangan hati dan kesehatan jiwa senantiasa menyertai kita semua di bulan yang penuh berkah ini.

Terkini