Proyeksi Laba BRMS 2026 Melejit Tembus Rp1,6 Triliun Didukung Ekspansi Tambang dan Harga Emas Global

Senin, 30 Maret 2026 | 15:47:20 WIB
Proyeksi Laba BRMS 2026 Melejit Tembus Rp1,6 Triliun Didukung Ekspansi Tambang dan Harga Emas Global

JAKARTA - Emiten pertambangan emas PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) diproyeksikan akan mencatat lonjakan laba signifikan pada tahun 2026. Proyeksi ini menjadi sorotan karena menunjukkan potensi pertumbuhan yang kuat di sektor tambang emas.

BRMS diramal mampu meraih laba sebesar US$94 juta atau sekitar Rp1,60 triliun dengan asumsi kurs Rp16.979 per dolar AS. Angka ini mencerminkan peningkatan yang cukup besar dibandingkan capaian sebelumnya.

Proyeksi tersebut disampaikan oleh analis UOB Kay Hian Indonesia, Maskun Ramli dalam risetnya tertanggal 27 Maret 2026. Analisis ini didasarkan pada sejumlah faktor fundamental yang mendukung kinerja perusahaan.

Salah satu faktor utama adalah peningkatan kapasitas tambang emas carbon in leach (CIL) Plant 1. Kapasitasnya direncanakan naik dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari.

Proyek peningkatan kapasitas tersebut ditargetkan selesai pada kuartal IV 2026. Dengan peningkatan ini, produksi emas diharapkan mengalami lonjakan signifikan.

Dinamika Produksi dan Tantangan Jangka Pendek

Dalam proses peningkatan kapasitas, BRMS diperkirakan akan menghadapi penurunan produksi dalam jangka pendek. Hal ini terjadi akibat aktivitas konstruksi yang masih berlangsung.

Selain itu, kegiatan pushback atau pengupasan lapisan tanah penutup juga turut memengaruhi produksi. Proses ini masih berjalan hingga tahap awal pengembangan tambang.

Namun demikian, dampak penurunan produksi tersebut dapat diimbangi oleh kinerja fasilitas lain. CIL plant kedua telah beroperasi dengan kapasitas sekitar 4.500 ton per hari sejak pertengahan 2025.

Keberadaan fasilitas kedua ini menjadi penopang utama produksi perusahaan. Dengan demikian, stabilitas produksi tetap dapat terjaga meskipun ada gangguan sementara.

Maskun menyampaikan proyeksi pertumbuhan laba yang cukup agresif untuk tahun 2026. "Dengan volume penjualan yang lebih tinggi 6,8% year on year (YoY), asumsi harga emas yang lebih tinggi, harga minyak yang lebih tinggi, serta tidak adanya pelepasan aset dan write-off, kami memproyeksikan laba 2026 tumbuh menjadi US$94 juta, atau naik 86,8% yoy," tulis Maskun.

Ekspansi Tambang dan Target Produksi Jangka Panjang

Selain peningkatan kapasitas CIL plant, BRMS juga mengembangkan tambang bawah tanah di Poboya. Proyek ini diperkirakan mulai berproduksi pada pertengahan tahun 2027.

Pengembangan tambang bawah tanah ini menjadi salah satu strategi jangka panjang perusahaan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan volume produksi emas secara berkelanjutan.

Maskun memperkirakan bahwa ekspansi ini akan mendorong produksi emas hingga 246.000 ons pada tahun 2030. Target tersebut mencerminkan ambisi perusahaan dalam memperluas kapasitas produksi.

Dengan adanya proyek-proyek ekspansi, BRMS berupaya memperkuat posisi di industri pertambangan emas. Hal ini juga menjadi sinyal positif bagi investor.

Peningkatan kapasitas dan diversifikasi sumber produksi menjadi kunci pertumbuhan jangka panjang. Strategi ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan.

Kinerja Keuangan BRMS dan Pergerakan Saham

Pada kuartal IV 2025, BRMS mencatatkan laba bersih sebesar US$12 juta. Angka ini meningkat 37,7% secara tahunan namun mengalami penurunan 19,7% secara kuartalan.

Penurunan secara kuartalan disebabkan oleh turunnya volume penjualan emas sebesar 12,7%. Kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas pushback yang berlangsung hingga kuartal I 2026.

Meskipun demikian, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) justru mengalami kenaikan. ASP tercatat naik 20,2% secara kuartalan.

Pada tahun penuh 2025, BRMS berhasil membukukan laba bersih sebesar US$50,08 juta. Angka ini melonjak dibandingkan tahun 2024 yang sebesar US$25,12 juta.

Kinerja tersebut bahkan melampaui estimasi sekuritas hingga mencapai 119%. Hal ini didorong oleh harga jual emas yang lebih tinggi dari perkiraan.

Sejalan dengan kinerja tersebut, UOB Kay Hian Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk saham BRMS. Target harga saham ditetapkan sebesar Rp1.330, naik dari sebelumnya Rp1.080.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, saham BRMS berada di level Rp710. Posisi ini mencerminkan koreksi sebesar 35,45% secara year to date (YtD).

Rangkuman Faktor Pendorong Kinerja BRMS

Berikut sejumlah faktor yang mendorong proyeksi kinerja BRMS:
● Peningkatan kapasitas CIL Plant 1 menjadi 2.000 ton per hari
● Operasional CIL plant kedua sebesar 4.500 ton per hari
● Proyeksi kenaikan volume penjualan sebesar 6,8% YoY
● Harga emas dan minyak yang lebih tinggi
● Tidak adanya pelepasan aset dan write-off

Faktor-faktor tersebut menjadi landasan utama dalam proyeksi pertumbuhan laba perusahaan. Kombinasi antara ekspansi produksi dan kondisi pasar yang mendukung memberikan prospek positif.

BRMS juga terus mengembangkan strategi untuk menjaga kinerja di tengah dinamika industri global. Hal ini penting untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Dengan berbagai rencana ekspansi dan dukungan harga komoditas, BRMS memiliki peluang besar untuk meningkatkan kinerja keuangan. Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi perusahaan dalam membuktikan potensi tersebut.

Terkini