JAKARTA - Industri perfilman tanah air kembali menyuguhkan karya yang penuh dengan nilai emosional dan inspirasi.
Menjelang akhir Januari 2026, sebuah proyek layar lebar bertajuk "Surat Untuk Masa Mudaku" atau A Letter To My Youth siap menyapa para penonton melalui layanan streaming global, Netflix. Salah satu hal yang mencuri perhatian dalam produksi ini adalah keterlibatan aktor muda berbakat, Millo Taslim. Remaja berusia 16 tahun ini tidak hanya membawa nama besar keluarganya ke layar kaca, tetapi juga menunjukkan dedikasi profesional dalam berkolaborasi dengan jajaran talenta cilik yang penuh semangat.
Kehadiran Millo dalam film ini menjadi angin segar bagi regenerasi aktor di Indonesia. Sebagai keponakan dari aktor laga internasional Joe Taslim, pemilik nama lengkap Theo Camillo Taslim ini membuktikan bahwa ia memiliki warna tersendiri dalam berakting. Film ini bukan sekadar proyek pekerjaan baginya, melainkan sebuah proses pendewasaan artistik yang dilakukan di lingkungan yang sangat mendukung.
Eksplorasi Peran Millo Taslim Sebagai Sosok Kefas di Masa Muda
Dalam narasi "Surat Untuk Masa Mudaku", Millo Taslim dipercaya untuk menghidupkan karakter sentral bernama Kefas pada fase usia mudanya. Peran ini memiliki tantangan tersendiri karena ia harus mampu membangun fondasi karakter yang nantinya akan diteruskan oleh aktor senior. Sosok Kefas versi dewasa sendiri diperankan oleh aktor film dan sinetron yang sudah sangat berpengalaman, Fendy Chow. Keselarasan emosi antara Millo dan Fendy menjadi kunci utama dalam menyampaikan pesan perjalanan hidup sang karakter kepada penonton.
Bagi Millo, proses syuting film ini terasa sangat menyenangkan karena ia dikelilingi oleh rekan-rekan kerja yang masih berusia dini namun memiliki profesionalisme tinggi. Interaksi di lokasi syuting menjadi ruang belajar yang dinamis bagi remaja tersebut. "Tentunya karena semangat talenta muda yang enggak pernah ada habisnya," ujar Millo saat ditemui di Jakarta, Rabu (28/1/2026). Ia mengaku menjadikan set film tersebut sebagai tempat untuk bermain sekaligus menyerap ilmu peran sebanyak mungkin dari sutradara dan rekan adu aktingnya.
Sinergi Millo Taslim dan Deretan Bintang Cilik di Bawah Arahan Sim F
Film yang dijadwalkan tayang mulai 29 Januari 2026 ini menampilkan kekuatan ansambel yang unik. Di bawah arahan sutradara Sim F, Millo berada dalam satu bingkai adegan yang melibatkan deretan aktor cilik berbakat. Nama-nama seperti Halim Latuconsina yang berperan sebagai Boni, Cleo Haura sebagai Joy, dan Aqila Faherby sebagai Sabrina, memberikan energi yang luar biasa pada setiap adegan. Selain mereka, keterlibatan Diandra Salsabila Lubis dan Jordan Omar semakin memperkaya dinamika cerita persahabatan yang menjadi nyawa dari film ini.
Sim F, yang bertindak sebagai penulis sekaligus sutradara, nampaknya sangat jeli dalam memadukan energi Millo yang sedang dalam masa transisi menuju dewasa dengan kepolosan para pemeran cilik. Kolaborasi ini menciptakan atmosfer yang autentik, menggambarkan bagaimana masa muda adalah fase penuh warna yang seringkali menentukan arah masa depan seseorang. Kehadiran para talenta muda ini diharapkan mampu menarik minat penonton lintas generasi untuk menyaksikan kisah yang hangat ini.
Kisah Personal Sutradara Sim F Tentang Perjalanan Hidup dan Ketekunan
Di balik keindahan visual dan cerita "Surat Untuk Masa Mudaku", terdapat latar belakang yang sangat personal bagi sang sutradara. Sim F mengungkapkan bahwa premis film ini berangkat dari pengalaman pribadinya yang pernah menetap di panti asuhan sejak usia 12 tahun. Latar belakang ini memberikan kedalaman emosi yang nyata pada setiap detil penceritaan. Pada masa itu, Sim F yang mengambil jurusan bangunan saat di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sempat memiliki pandangan hidup yang terbatas.
Ia sempat berpikir bahwa jalan hidupnya hanya akan berakhir sebagai seorang juru gambar atau mandor kontraktor. Namun, takdir berkata lain berkat ketekunan dan kerja kerasnya. Sim F berhasil meraih beasiswa di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), sebuah pencapaian yang membuka jalan baginya untuk masuk ke dunia perfilman. Perjalanan hidup dari seorang anak panti asuhan menjadi sutradara film panjang adalah bukti nyata dari pesan yang ingin ia sampaikan melalui film terbarunya ini. Karier Sim F sendiri dimulai melalui segmen “Kotak Coklat” dalam film omnibus "Sanubari Jakarta" (2012), dan ia semakin dikenal luas setelah menggarap film biopik "Susi Susanti: Love All" pada tahun 2019.
Pesan Moral Mengenai Persahabatan dan Berdamai Dengan Masa Lalu
"Surat Untuk Masa Mudaku" bukan sekadar tontonan hiburan biasa. Film panjang kedua dari Sim F ini mengusung misi untuk menyebarkan pesan moral yang mendalam bagi penontonnya. Melalui interaksi karakter Kefas dan kawan-kawannya, penonton diajak untuk lebih menghargai setiap detik waktu yang telah berlalu. Film ini menekankan pentingnya nilai-nilai persahabatan sebagai sistem pendukung dalam menghadapi berbagai rintangan hidup.
Lebih jauh lagi, karya ini mengajak penonton untuk berdamai dengan diri sendiri, terutama saat harus menjalani fase ketidakpastian dalam hidup. Dengan nuansa yang nostalgik namun tetap relevan, film ini diharapkan bisa menjadi refleksi bagi mereka yang sedang berjuang mencari arah atau mereka yang ingin mengenang kembali masa-masa pembentukan jati diri. Kehadiran film ini di platform Netflix memastikan bahwa pesan universal tentang harapan dan keteguhan hati ini dapat menjangkau audiens yang lebih luas, baik di Indonesia maupun mancanegara.