Minyak Dunia

Harga Minyak Dunia Melemah Awal Pekan, Ketegangan AS–Iran Mereda dan Dolar Menguat

Harga Minyak Dunia Melemah Awal Pekan, Ketegangan AS–Iran Mereda dan Dolar Menguat
Harga Minyak Dunia Melemah Awal Pekan, Ketegangan AS–Iran Mereda dan Dolar Menguat

JAKARTA - Pergerakan harga minyak dunia pada awal pekan ini menunjukkan tekanan signifikan setelah sentimen pasar mulai berubah. Meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pelemahan tersebut.

Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut Iran tengah melakukan pembicaraan serius dengan Washington memberikan sinyal de-eskalasi konflik. Kondisi ini meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi gangguan pasokan minyak global.

Selain faktor geopolitik, tekanan juga datang dari penguatan dolar AS yang membuat harga komoditas menjadi relatif lebih mahal bagi investor global. Situasi ini membuat minat beli terhadap minyak cenderung melemah dalam jangka pendek.

Prakiraan cuaca yang lebih hangat di Amerika Serikat turut memperburuk sentimen pasar energi. Permintaan terhadap bahan bakar pemanas dan energi berbasis minyak diperkirakan menurun seiring suhu yang lebih tinggi.

Kombinasi faktor geopolitik, makroekonomi, dan cuaca membuat pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati. Harga minyak pun terkoreksi setelah sempat mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.

Harga Minyak Terkoreksi di Pasar Global

Mengutip CNBC pada Selasa, 3 Februari 2026, harga minyak mentah Brent tercatat turun USD 3,40 atau 4,9% ke level USD 65,92 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah USD 3,51 atau 5,3% ke posisi USD 61,70 per barel.

Penurunan tersebut terjadi setelah harga minyak sempat menguat pada akhir Januari lalu. Saat itu, kekhawatiran geopolitik dan gangguan cuaca ekstrem sempat mendorong reli harga di pasar global.

Pejabat Iran dan Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa kedua negara akan kembali melanjutkan pembicaraan nuklir pada Jumat mendatang. Trump sebelumnya mengatakan Iran sedang “serius berbicara” dengan AS, beberapa jam setelah pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan bahwa persiapan negosiasi sedang dilakukan.

Pernyataan tersebut disambut positif oleh pelaku pasar yang sebelumnya mengantisipasi risiko konflik terbuka. Dengan meredanya ancaman eskalasi, kekhawatiran terhadap gangguan suplai minyak dari kawasan Timur Tengah pun menurun.

Sebelumnya, Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi terhadap Iran jika tidak menyepakati kesepakatan nuklir atau terus menindak para demonstran. Ancaman tersebut sempat menopang harga minyak sepanjang Januari, menurut analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.

Namun, seiring perubahan nada diplomasi, sentimen pasar bergeser ke arah yang lebih defensif. Harga minyak yang sempat menguat kini kembali terkoreksi dalam waktu singkat.

Para pelaku pasar menilai bahwa risiko geopolitik saat ini belum sepenuhnya hilang. Meski demikian, peluang terjadinya dialog terbuka dinilai cukup untuk meredakan tekanan jangka pendek terhadap pasokan global.

Kondisi ini membuat pasar minyak kembali fokus pada faktor fundamental lainnya. Permintaan global, persediaan minyak, serta kebijakan produksi negara-negara produsen menjadi sorotan utama.

Penguatan Dolar dan Faktor Cuaca Tekan Harga

Tekanan tambahan pada harga minyak datang dari penguatan dolar AS menyusul pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya. Dolar yang lebih kuat membuat komoditas seperti minyak menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga berpotensi menekan permintaan.

Kondisi tersebut mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berdenominasi dolar, termasuk komoditas energi. Akibatnya, harga minyak menghadapi tekanan jual yang cukup signifikan.

Di sisi lain, prakiraan cuaca yang lebih hangat di AS turut menekan harga minyak. Ritterbusch and Associates mencatat, kontrak berjangka diesel AS yang digunakan untuk pemanas dan pembangkit listrik turun hampir 7% pada Senin.

Turunnya permintaan terhadap bahan bakar pemanas berdampak langsung pada konsumsi minyak. Hal ini menjadi salah satu alasan utama melemahnya harga energi di pasar berjangka.

Analis PVM menambahkan, ketegangan di Timur Tengah dan fenomena polar vortex di AS sempat mendorong harga WTI naik 14% dan Brent menguat 16% sepanjang Januari. Namun, seiring meredanya faktor-faktor tersebut, perhatian pasar kini kembali tertuju pada potensi peningkatan persediaan minyak global tahun ini.

Kekhawatiran terhadap potensi kelebihan pasokan membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi beli. Hal ini menambah tekanan terhadap harga minyak di pasar internasional.

Pergerakan dolar AS juga menjadi indikator penting dalam menentukan arah harga minyak ke depan. Jika dolar terus menguat, tekanan terhadap komoditas berdenominasi dolar diperkirakan masih berlanjut.

Sementara itu, perubahan pola cuaca global juga memengaruhi prospek permintaan energi. Musim dingin yang lebih ringan dari perkiraan dapat menurunkan konsumsi bahan bakar secara keseluruhan.

Kondisi ini menciptakan lingkungan pasar yang penuh ketidakpastian. Investor cenderung menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum kembali meningkatkan eksposur terhadap sektor energi.

Sikap OPEC+ dan Dinamika Produksi Minyak

Sementara itu, OPEC+ dalam pertemuan Minggu lalu sepakat mempertahankan tingkat produksi minyak untuk Maret. Pada November, kelompok produsen ini juga membekukan rencana kenaikan produksi hingga Maret 2026 karena lemahnya permintaan musiman.

Keputusan tersebut diambil untuk menjaga keseimbangan pasar di tengah fluktuasi permintaan global. OPEC+ berupaya mencegah kelebihan pasokan yang dapat menekan harga lebih jauh.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) disebut telah mencapai kesepakatan prinsip untuk mempertahankan penundaan kenaikan produksi minyak hingga Maret. Kesepakatan ini diambil meski harga minyak mentah dunia telah menyentuh level tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Langkah tersebut menunjukkan kehati-hatian OPEC+ dalam merespons kondisi pasar yang masih belum stabil. Produsen besar memilih menjaga pasokan agar tidak memperburuk tekanan harga.

Mengutip channel News Asia pada Senin, 2 Februari 2026, keputusan tersebut disepakati oleh delapan negara anggota OPEC+ dalam pertemuan yang digelar Minggu. Kesepakatan ini tercapai di tengah kekhawatiran pasar bahwa Amerika Serikat berpotensi melancarkan serangan militer terhadap Iran, yang juga merupakan anggota OPEC.

Kekhawatiran geopolitik tersebut sebelumnya mendorong harga minyak naik mendekati level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Namun, dengan meredanya ketegangan, sentimen pasar kembali berubah.

Harga minyak Brent ditutup mendekati USD 70 per barel pada Jumat, atau tidak jauh dari level tertinggi enam bulan di USD 71,89 yang tercapai sehari sebelumnya. Penguatan harga terjadi meski muncul spekulasi potensi kelebihan pasokan minyak global pada 2026 yang berpotensi menekan harga.

Pergerakan tersebut mencerminkan dinamika pasar yang masih sensitif terhadap faktor geopolitik dan kebijakan produksi. Investor terus memantau langkah-langkah OPEC+ dalam menjaga keseimbangan pasar.

Delapan negara produsen tersebut, yakni Arab Saudi, Rusia, Uni Emirat Arab, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman, sebelumnya telah menaikkan kuota produksi sekitar 2,9 juta barel per hari dari April hingga Desember 2025. Kenaikan itu setara sekitar 3 persen dari total permintaan minyak global.

Namun, rencana kenaikan lanjutan untuk Januari hingga Maret 2026 dibekukan karena konsumsi minyak yang cenderung melemah secara musiman. Langkah ini diambil untuk menghindari tekanan tambahan terhadap harga di pasar global.

Keputusan OPEC+ untuk mempertahankan produksi mencerminkan upaya menjaga stabilitas pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Produsen berupaya menyesuaikan pasokan dengan dinamika permintaan yang terus berubah.

Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa OPEC+ masih memiliki peran strategis dalam mengatur keseimbangan pasar minyak dunia. Setiap kebijakan produksi yang diambil dapat berdampak signifikan terhadap pergerakan harga.

Prospek Harga Minyak ke Depan

Pergerakan harga minyak ke depan diperkirakan masih dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global. Perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah pasar.

Jika proses dialog berjalan positif, risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah dapat semakin berkurang. Hal ini berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap harga minyak dunia.

Namun, ketidakpastian politik di kawasan tersebut tetap menjadi faktor risiko yang tidak bisa diabaikan. Setiap perubahan situasi dapat dengan cepat mengubah sentimen pasar energi.

Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter Amerika Serikat juga akan memengaruhi pergerakan harga minyak. Penguatan dolar AS berpotensi terus menekan harga komoditas jika tren tersebut berlanjut.

Di sisi lain, dinamika permintaan global juga menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pertumbuhan ekonomi di negara-negara besar akan memengaruhi tingkat konsumsi energi secara keseluruhan.

Perkembangan teknologi energi terbarukan juga turut memengaruhi prospek jangka panjang sektor minyak. Transisi menuju energi bersih dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil secara bertahap.

Namun, dalam jangka pendek, minyak masih menjadi sumber energi utama bagi banyak negara. Permintaan terhadap minyak mentah tetap relatif kuat meski menghadapi tekanan dari faktor eksternal.

Kondisi cuaca global juga menjadi variabel penting dalam menentukan permintaan energi. Musim dingin yang ekstrem dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar, sementara cuaca hangat cenderung menekan permintaan.

Investor dan pelaku industri akan terus memantau perkembangan faktor-faktor tersebut. Perubahan kecil dalam kebijakan atau kondisi pasar dapat berdampak besar terhadap harga minyak.

Dengan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, volatilitas harga minyak diperkirakan masih tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Pelaku pasar diharapkan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Pergerakan harga minyak yang melemah pada awal Februari 2026 menjadi pengingat bahwa pasar energi sangat sensitif terhadap perubahan sentimen global. Kombinasi faktor geopolitik, ekonomi, dan cuaca terus membentuk dinamika harga di pasar internasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index