JAKARTA - Pemerintah terus memacu pembangunan infrastruktur di Kawasan Sentra Produksi Pangan (KSPP) atau food estate yang berlokasi di Distrik Il Wayam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Proyek ambisius ini dirancang untuk mengubah wajah Wanam menjadi pusat Cadangan Pangan Nasional melalui program cetak sawah baru seluas 1 juta hektare. Namun, di balik visi besar tersebut, para pekerja di lapangan harus berjibaku dengan kondisi alam yang ekstrem dan penuh risiko.
Sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), pengembangan lumbung pangan ini tidak hanya fokus pada sektor pertanian, tetapi juga mencakup pembangunan jaringan irigasi, industri biodiesel, serta penguatan pertahanan negara. Dalam ekosistem yang kompleks ini, konektivitas darat menjadi variabel kunci yang akan menentukan keberhasilan distribusi logistik dan hasil pangan di masa depan.
Tantangan Alam Ekstrem di Jantung Papua Selatan
Membangun infrastruktur di Il Wayam bukanlah perkara mudah. Para insinyur dan pekerja menghadapi tantangan teknis yang sangat berat, terutama karena karakteristik wilayah yang didominasi oleh rawa-rawa luas. Curah hujan yang tinggi serta fenomena pasang surut air laut yang ekstrem menjadikan proses pembangunan jalan sebagai pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi.
Kondisi tanah yang berlumpur menuntut perlakuan khusus agar jalan yang dibangun tidak amblas. Alex Bastomi dari Tim Survei Jhonlin Group mengungkapkan bahwa progres pekerjaan tetap berjalan meski alam tidak selalu bersahabat. Perjuangan melawan lumpur dan cuaca ini merupakan harga yang harus dibayar untuk memutus isolasi wilayah di ujung timur Indonesia tersebut.
Progres Signifikan Pembangunan Jalur Wanam-Merauke
Hingga akhir Januari 2026, pembangunan jalan sepanjang 135 kilometer yang menghubungkan Wanam dengan pusat kota Merauke menunjukkan kemajuan yang positif. Berdasarkan data teknis di lapangan, progres fisik pekerjaan telah mencapai beberapa tonggak penting:
Perintisan Jalan: Telah berhasil menembus lahan sepanjang 58,44 kilometer.
Perkerasan Jalan: Sepanjang 11,53 kilometer jalan telah diperkeras menggunakan batu.
Pembukaan Lahan: Total area yang telah dibuka untuk mendukung proyek ini mencapai 9.781 hektare.
Alex Bastomi memastikan bahwa jalan yang telah diperkeras kini sudah mulai fungsional. Kendaraan berat, khususnya truk pengangkut material proyek, mulai bisa melintasi jalur tersebut. “Itu sudah bisa (dilewati) karena sudah kita perkeras dengan batu,”.
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Lokal di Merauke
Kehadiran proyek food estate ini mulai membawa perubahan nyata bagi taraf hidup masyarakat lokal. Salah satunya dirasakan oleh Ulus, warga asli Merauke yang kini beralih profesi menjadi sopir truk pengangkut material proyek. Sebelum jalan darat terbuka, Ulus bekerja sebagai tenaga harian saat tahap survei pembangunan dermaga (jetty) di Wanam.
Menurut kesaksiannya, kondisi Wanam beberapa tahun lalu sangat memprihatinkan karena aksesnya yang tertutup. Jalur air menjadi satu-satunya tumpuan logistik, namun sangat bergantung pada kondisi pasang surut air yang seringkali menghambat mobilitas warga.
Membangun Masa Depan Ketahanan Pangan Nasional
Proyek di Merauke ini merupakan bagian dari rencana besar Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan raksasa. Dengan infrastruktur yang semakin mumpuni, diharapkan distribusi hasil bumi dari Papua Selatan dapat menyuplai kebutuhan pangan secara nasional dengan lebih efisien.
Selain aspek pangan, keberadaan jalan dan dermaga di wilayah ini secara otomatis memperkuat kedaulatan wilayah di perbatasan. Pemerintah berharap, dengan rampungnya jalur Wanam-Merauke, ekosistem industri pertanian dan biodiesel dapat segera beroperasi secara penuh untuk mendukung kemandirian energi dan pangan Indonesia di masa depan.