Baterai Listrik

Investasi Masif 6 Miliar US Dollar: IBC Gandeng Antam-Konsorsium HYD Bangun Industri Baterai Listrik

Investasi Masif 6 Miliar US Dollar: IBC Gandeng Antam-Konsorsium HYD Bangun Industri Baterai Listrik
Investasi Masif 6 Miliar US Dollar: IBC Gandeng Antam-Konsorsium HYD Bangun Industri Baterai Listrik

JAKARTA - Sebuah langkah besar menuju kemandirian energi nasional kembali ditorehkan oleh PT Industri Baterai Indonesia (IBC). Perusahaan tersebut secara resmi telah menandatangani framework agreement bersama PT Aneka Tambang Tbk.

 (ANTAM) dan Konsorsium HYD Investment Limited (HYD). Kerja sama strategis ini difokuskan pada pengembangan industri baterai listrik yang terintegrasi sepenuhnya, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Prosesi penandatanganan kesepakatan tersebut dilangsungkan di Jakarta pada Jumat, 30 Januari 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa kolaborasi lintas perusahaan ini merupakan bagian krusial dari percepatan program penghiliran nasional. Hal ini sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam mengoptimalkan kekayaan alam Indonesia.

"Saya ulangi arahan Bapak Presiden Prabowo, bahwa dalam rangka pengelolaan sumber daya alam, baik sekarang maupun ke depan, kita harus memprioritaskan kepentingan negara,” tegas Bahlil dalam keterangan tertulisnya pada Senin, 2 Februari 2026.

Potensi Ekonomi: Investasi Fantastis dan Serapan Ribuan Tenaga Kerja

Proyek ambisius ini diprediksi akan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi baru di Indonesia. Nilai investasi yang dikucurkan diperkirakan mencapai US$ 6 miliar atau setara dengan puluhan triliun rupiah. Dengan modal yang begitu besar, proyek ini menargetkan rencana kapasitas produksi baterai listrik yang mencapai angka 20 gigawatt hour (GWh).

Dampak positif dari proyek ini tidak hanya berhenti pada angka produksi, tetapi juga pada penyediaan lapangan pekerjaan. Setidaknya, terdapat potensi penciptaan sekitar 10 ribu lapangan kerja baru bagi masyarakat Indonesia. Bahlil menekankan bahwa pengelolaan sumber daya alam ini harus benar-benar mengedepankan kepentingan nasional agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh rakyat.

Ekosistem Terintegrasi: Dari Halmahera Timur Hingga Jawa Barat

Strategi pengembangan industri ini akan tersebar secara geografis untuk memaksimalkan potensi setiap wilayah. Menteri ESDM meminta adanya keterlibatan aktif dari perusahaan dan tenaga kerja lokal dalam setiap tahapannya. Fokus pengembangan akan terbagi dalam dua pilar utama:

Sektor Hulu: Pengembangan tambang, pembangunan smelter, serta penyediaan fasilitas hilirisasi akan dipusatkan di wilayah Halmahera Timur, Maluku Utara.

Sektor Hilir: Pengembangan ekosistem baterai dan komponen katoda akan dioptimalkan di wilayah Jawa Barat.

Selain difungsikan untuk mempercepat transisi kendaraan listrik (EV), baterai yang dihasilkan juga dirancang untuk mendukung sektor energi terbarukan lainnya. Bahlil menyebutkan bahwa kebutuhan baterai ini nantinya juga akan diarahkan untuk menopang program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) nasional yang memiliki target kapasitas hingga 100 gigawatt.

Tahapan Awal: Penguasaan Teknologi dan Kajian Kelayakan Mendalam

Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, memandang penandatanganan framework agreement ini sebagai batu pijakan awal dalam membangun industri baterai terintegrasi milik bangsa. Fokus IBC tidak hanya terpaku pada masuknya modal asing, tetapi juga pada aspek krusial lainnya yaitu penguasaan teknologi. Melalui transfer pengetahuan (transfer of knowledge) dari mitra global, diharapkan kapasitas industri dalam negeri akan semakin kuat dan mandiri.

Sebagai langkah lanjutan, Aditya menjelaskan bahwa proyek akan segera masuk ke tahap joint feasibility study. Tahap ini akan mengkaji secara komprehensif seluruh aspek pengembangan sebelum berlanjut ke penandatanganan definitive agreement. Dengan kajian yang matang, diharapkan risiko proyek dapat diminimalisir dan keuntungan bagi negara dapat dimaksimalkan.

Dukungan Penuh Pemegang Saham: Penguatan Ketahanan Energi Nasional

Dukungan kuat juga datang dari PT PLN (Persero) selaku salah satu pemegang saham utama IBC. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menilai bahwa proyek industri baterai terintegrasi ini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi. Keberadaan pabrik baterai di dalam negeri akan menjadi tulang punggung bagi ekosistem kendaraan listrik sekaligus sistem pembangkit listrik masa depan.

Darmawan menambahkan bahwa penguatan industri baterai di tanah air adalah syarat mutlak untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan secara masif. Selain mempercepat adopsi kendaraan ramah lingkungan, langkah ini dipercaya akan memperkuat ketahanan pasokan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada komponen impor di masa mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index