JAKARTA - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI secara resmi mengonfirmasi rencana kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam rapat perdana Board of Peace.
Langkah ini menjadi momentum penting bagi diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo untuk menunjukkan komitmen nyata dalam menciptakan stabilitas dan perdamaian internasional. Forum ini diharapkan menjadi wadah strategis bagi para pemimpin dunia untuk merumuskan solusi konkret terhadap berbagai konflik global yang kian kompleks, mulai dari krisis keamanan hingga ketegangan geopolitik di berbagai kawasan.
Kehadiran Presiden Prabowo dalam forum ini bukan sekadar partisipasi formal, melainkan bagian dari visi besar "Diplomasi Aktif" Indonesia yang ingin menempatkan negara sebagai jembatan perdamaian (bridge builder) di tengah persaingan kekuatan besar. Partisipasi ini diharapkan mampu memperkuat suara negara-negara berkembang dalam agenda-agenda perdamaian dunia yang inklusif.
Misi Diplomasi Perdamaian Dalam Forum Board of Peace
Rapat perdana Board of Peace ini dirancang untuk membahas kerangka kerja sama internasional dalam pencegahan konflik dan pembangunan perdamaian berkelanjutan. Bagi Presiden Prabowo, forum ini merupakan panggung untuk memaparkan perspektif Indonesia mengenai pentingnya dialog dan pendekatan kemanusiaan dalam menyelesaikan sengketa. Fokus Indonesia tetap pada penghormatan kedaulatan serta upaya de-eskalasi konflik melalui negosiasi yang bermartabat.
Kepemimpinan Indonesia dalam forum ini juga akan menyoroti pentingnya peran organisasi multilateral dalam menjaga hukum internasional. Dengan latar belakang militer dan pengalaman diplomatik yang luas, Presiden Prabowo diprediksi akan membawa gagasan segar mengenai modernisasi sistem keamanan kolektif yang lebih adil dan transparan bagi semua negara, tanpa terkecuali.
Strategi Kepemimpinan Prabowo Di Panggung Multilateral
Keikutsertaan dalam Board of Peace mencerminkan pergeseran gaya diplomasi Indonesia yang lebih tegas dan berorientasi pada hasil (result-oriented). Presiden Prabowo dikenal memiliki kedekatan dengan berbagai pemimpin dunia, baik dari blok Barat maupun Timur, yang menjadi modal utama dalam mencairkan kebuntuan komunikasi antarnegara yang bersitegang. Indonesia ingin memastikan bahwa perdamaian bukan hanya sekadar absennya perang, tetapi juga adanya keadilan ekonomi dan stabilitas kawasan.
"Kehadiran Presiden adalah pesan kuat bahwa Indonesia siap berkontribusi lebih aktif dalam menjaga ketertiban dunia," ungkap juru bicara Kemlu. Forum ini juga akan digunakan untuk membangun kemitraan strategis di bidang pertahanan dan keamanan non-tradisional, seperti penanggulangan terorisme, keamanan siber, dan mitigasi dampak krisis iklim terhadap keamanan nasional.