JAKARTA - Laju nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali memasuki fase krusial pada perdagangan hari ini, Rabu (18 Februari 2026).
Setelah sempat menunjukkan perlawanan di sesi sebelumnya, mata uang Garuda kini dihadapkan pada sejumlah indikator makro ekonomi global yang cukup menantang. Para pelaku pasar dan investor tengah menanti dengan cermat apakah Rupiah mampu mempertahankan posisinya atau justru akan terperosok ke zona pelemahan akibat sentimen eksternal yang kian dinamis.
Pergerakan kurs hari ini tidak lepas dari pengaruh rilis data inflasi dan tenaga kerja di Amerika Serikat yang tetap solid, sehingga memicu spekulasi mengenai kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Kondisi ini secara otomatis memberikan tenaga tambahan bagi Dolar AS untuk menguat (rebound), yang pada gilirannya menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah.
Analisis Faktor Eksternal dan Sentimen Penggerak Kurs Dolar AS
Salah satu faktor utama yang membayangi Rupiah hari ini adalah indeks Dolar AS (DXY) yang kembali menunjukkan tren penguatan. Investor cenderung beralih ke aset safe haven seperti Dolar di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter global. Selain itu, kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury) turut memperlebar selisih suku bunga, yang memicu aliran modal keluar (outflow) dari pasar keuangan domestik.
Namun, di sisi lain, optimisme terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri diharapkan dapat menjadi bantalan bagi Rupiah. Cadangan devisa Indonesia yang tetap kuat serta surplus neraca perdagangan yang terjaga menjadi modal penting bagi Bank Indonesia (BI) untuk melakukan intervensi jika volatilitas di pasar valuta asing mulai melampaui batas kewajaran. Sentimen pasar hari ini akan sangat bergantung pada bagaimana respon investor terhadap rilis data ekonomi terbaru dari kawasan Asia.
Rentang Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Berdasarkan Analisis Pasar
Berdasarkan pemantauan pasar per pagi hari ini, para analis memproyeksikan Rupiah akan bergerak dalam rentang konsolidasi dengan kecenderungan melemah tipis. Berikut adalah estimasi teknis untuk pergerakan kurs hari ini:
Level Support: Rp15.950 per Dolar AS (batas penguatan terdekat)
Level Resistance: Rp16.100 per Dolar AS (batas pelemahan krusial)
Apabila tekanan dari Dolar AS terus berlanjut tanpa adanya sentimen positif dari dalam negeri, ada risiko Rupiah akan menguji level psikologis Rp16.050 per Dolar AS. Sebaliknya, jika data ekonomi domestik memberikan kejutan positif, tidak menutup kemungkinan Rupiah akan berbalik menguat terbatas dan parkir di kisaran Rp15.980-an.
Implikasi Pergerakan Kurs Terhadap Sektor Riil dan Investasi
Fluktuasi nilai tukar ini tentu memberikan dampak langsung bagi berbagai sektor di Indonesia. Sektor manufaktur yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor perlu waspada terhadap potensi kenaikan biaya produksi jika Rupiah terus melemah. Di sisi lain, para eksportir komoditas berpeluang mendapatkan keuntungan lebih dari konversi pendapatan valas mereka ke dalam Rupiah.
Bagi para investor, volatilitas kurs ini menjadi pengingat penting untuk melakukan diversifikasi portofolio. Aset-aset berbasis Dolar mungkin terlihat menarik dalam jangka pendek, namun fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid memberikan prospek yang cukup menjanjikan untuk instrumen berbasis Rupiah dalam jangka panjang. Pengawasan ketat terhadap pergerakan Foreign Flow di pasar saham dan obligasi hari ini akan menjadi kunci untuk membaca arah likuiditas global terhadap mata uang Garuda.
Langkah Antisipasi Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Rupiah
Menyikapi dinamika pasar hari ini, Bank Indonesia diprediksi akan tetap berada di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik (Triple Intervention). Langkah ini mencakup intervensi di pasar spot, pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), serta pasar obligasi pemerintah. Fokus utama otoritas moneter adalah menjaga agar fluktuasi Rupiah tidak mengganggu tingkat inflasi nasional dan stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.
Hingga penutupan pasar sore nanti, pergerakan Rupiah akan menjadi cerminan dari bagaimana pasar global mempersepsikan risiko ekonomi saat ini. Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk terus memantau kurs secara berkala dan melakukan transaksi valas secara bijak sesuai kebutuhan operasional guna menghindari risiko kerugian akibat perubahan nilai tukar yang mendadak di tahun 2026 ini.