BRI

Strategi Selektif BRI 2026: Target Kredit 7-9 Persen, NPL 3,07 Persen, dan CASA Tembus 70,6 Persen

Strategi Selektif BRI 2026: Target Kredit 7-9 Persen, NPL 3,07 Persen, dan CASA Tembus 70,6 Persen
Strategi Selektif BRI 2026: Target Kredit 7-9 Persen, NPL 3,07 Persen, dan CASA Tembus 70,6 Persen

JAKARTA - Di tengah tantangan likuiditas dan dinamika permintaan pembiayaan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memilih mengatur ulang arah ekspansi kreditnya. Perseroan kini menitikberatkan strategi pada kualitas pertumbuhan dibanding sekadar mengejar angka agresif.

Pendekatan tersebut tercermin dari target pertumbuhan kredit tahun ini yang dipasang lebih moderat. BRI hanya membidik kenaikan satu digit di kisaran 7 hingga 9 persen dengan fokus pada sektor-sektor yang dinilai berkualitas.

Langkah itu bukan tanpa alasan karena perseroan ingin menjaga keseimbangan antara ekspansi dan kesehatan aset. Prinsip kehati-hatian menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan penyaluran pembiayaan baru.

Per akhir 2025, penyaluran kredit BRI secara konsolidasi sebenarnya masih mencatat pertumbuhan kuat. Kredit tumbuh 12,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1.521 triliun dengan penekanan utama pada segmen UMKM.

Capaian tersebut menjadi fondasi penting sebelum memasuki fase pertumbuhan yang lebih selektif. BRI menilai kualitas portofolio harus tetap terjaga agar kinerja berkelanjutan dapat diwujudkan.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa strategi selektif telah menjadi kebijakan utama manajemen. “Kita memang sangat selektif memilih sektor-sektor yang berkualitas, yang tentunya bisa memberikan yield yang bagus tapi di sisi lain juga tidak membawa kualitas aset yang buruk bagi BRI,” kata Hery dalam konferensi pers Paparan Kinerja Keuangan Triwulan IV 2025 secara daring di Jakarta, Kamis.

Fokus Kualitas Aset dan Perbaikan Segmen Mikro

Dalam menjaga kualitas kredit, perseroan terus melakukan pembenahan terutama pada segmen mikro. Perbaikan dilakukan secara konsisten agar risiko dapat ditekan sejak tahap awal pembiayaan.

Optimalisasi dimulai dari penyempurnaan model bisnis mikro yang lebih adaptif terhadap kondisi pasar. Selain itu, peningkatan aktivitas penagihan oleh para mantri dilakukan untuk memastikan kedisiplinan pembayaran debitur tetap terjaga.

Hingga akhir 2025, rasio non-performing loan (NPL) BRI tercatat berada di level 3,07 persen. Sementara itu, loan at risk (LAR) menunjukkan perbaikan dari 10,7 persen pada akhir 2024 menjadi 9,6 persen pada akhir 2025.

Penurunan LAR tersebut menjadi indikator positif atas efektivitas strategi pengelolaan risiko. Perseroan memandang tren ini sebagai sinyal bahwa kualitas portofolio mulai bergerak ke arah yang lebih sehat.

Ke depan, BRI berencana menerapkan mekanisme pembayaran angsuran secara autodebet bagi nasabah mikro yang memiliki rekening tabungan di BRI. Skema ini diharapkan mampu meningkatkan disiplin pembayaran sekaligus mengurangi potensi tunggakan.

Melalui sistem autodebet, nasabah didorong menjaga kecukupan saldo minimal setara satu hingga dua kali angsuran. Dengan demikian, pembayaran dapat dilakukan secara otomatis dan tepat waktu tanpa harus menunggu pengingat manual.

Mekanisme serupa sebenarnya telah diterapkan lebih dulu pada segmen konsumer seperti KPR dan pembiayaan kendaraan. Penerapan di segmen mikro diharapkan mampu menekan risiko keterlambatan khususnya pada kolektibilitas 2 agar kualitas kredit semakin terjaga.

Sinergi Commercial dan Corporate Banking

Di sisi lain, kinerja segmen commercial banking dan corporate banking menunjukkan performa solid. Kedua segmen ini berperan strategis sebagai sumber lead bagi unit bisnis di cabang maupun lini konsumer.

Sinergi tersebut membuka peluang ekspansi yang lebih terukur dan berbasis data nasabah berkualitas. Salah satu potensi yang terus didorong adalah pertumbuhan kredit tanpa agunan (KTA) berbasis payroll atau payroll loan.

Kemampuan commercial dan corporate banking dalam menyediakan nasabah payroll berkualitas menjadi keunggulan tersendiri. Aliran data dan hubungan korporasi memungkinkan segmen konsumer mendapatkan debitur dengan profil risiko yang lebih terukur.

Pendekatan ini memperlihatkan integrasi antarlini bisnis dalam satu ekosistem BRI. Strategi tersebut diharapkan mampu menjaga pertumbuhan tetap sehat tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.

Dengan model kolaboratif tersebut, ekspansi kredit tidak hanya bertumpu pada akuisisi konvensional. Perseroan dapat memaksimalkan potensi internal yang telah terbangun melalui hubungan korporasi jangka panjang.

Strategi Funding dan Penguatan CASA

Dari sisi pendanaan, BRI terus memperbaiki struktur funding agar lebih efisien. Fokus utama diarahkan pada peningkatan rasio dana murah atau current account saving account (CASA).

Sepanjang 2025, BRI berhasil meningkatkan rasio CASA hingga mencapai 70,6 persen. Pencapaian ini memperkuat struktur likuiditas sekaligus membantu menekan biaya dana.

Perolehan dana murah yang bersumber dari giro dan tabungan akan terus ditingkatkan melalui penguatan mesin pertumbuhan transaction banking. Instrumen tersebut meliputi super apps BRImo, transaksi melalui QRIS dan EDC, platform QLola, serta Agen BRILink.

Ekosistem transaksi yang luas mendorong peningkatan volume dan frekuensi transaksi nasabah. Hal ini secara langsung berkontribusi terhadap pertumbuhan dana murah yang lebih stabil dan berkelanjutan.

“Jadi kita memang ingin leading di sisi funding murah atau CASA ratio,” katanya. Pernyataan tersebut menegaskan ambisi BRI untuk menjadi pemimpin dalam penghimpunan dana murah di industri perbankan.

Secara keseluruhan, transformasi yang dijalankan melalui inisiatif BRIVolution Reignite diyakini akan memperkuat fundamental perseroan. Pertumbuhan dana murah diharapkan terus meningkat sehingga biaya dana atau cost of fund (CoF) dapat ditekan dan margin tetap stabil.

Optimisme Kinerja 2026 Lebih Baik

Selain penguatan funding, perbaikan kualitas kredit di segmen mikro diharapkan terus menunjukkan tren positif. Proses underwriting yang lebih prudent serta akuisisi nasabah baru yang lebih selektif menjadi kunci terbentuknya portofolio dengan kolektibilitas lancar lebih tinggi.

Kombinasi antara ekspansi selektif dan transformasi digital menjadi fondasi strategi BRI ke depan. Perseroan ingin memastikan setiap pertumbuhan yang terjadi tetap berada dalam koridor manajemen risiko yang disiplin.

Dengan berbagai langkah tersebut, manajemen memandang prospek 2026 tetap menjanjikan. “Harapannya tahun 2026 BRI akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2025,” kata Hery.

Optimisme itu dibangun di atas capaian 2025 yang solid sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap tantangan yang ada. BRI menegaskan komitmennya untuk terus tumbuh secara sehat, berkelanjutan, dan berorientasi pada kualitas dalam setiap lini bisnisnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index