JAKARTA - Momen bersejarah satu abad berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) dalam hitungan tahun Masehi dirayakan dengan cara yang edukatif dan religius oleh warga Nahdliyin di Negeri Sakura.
Tepat pada Sabtu, 31 Januari 2026, Lazisnu Jepang menggelar sebuah webinar penting yang membedah tuntas persoalan zakat. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni perayaan, melainkan sebuah ikhtiar untuk menanamkan pemahaman syariat yang mendalam bagi umat Muslim yang sedang berjuang atau menetap di luar negeri, khususnya di Jepang.
Webinar ini menjadi jembatan ilmu bagi masyarakat Muslim Indonesia di Jepang agar tetap teguh menjalankan kewajiban agama di tengah lingkungan yang berbeda budaya. Dengan semangat satu abad NU, Lazisnu Jepang berupaya memperkuat fondasi keimanan melalui gerakan zakat yang terorganisir dan profesional.
Membangun Kesadaran Zakat di Tengah Kehidupan Masyarakat Muslim Jepang
Gus Muntaha, selaku Ketua Lazisnu Jepang, menegaskan bahwa kesadaran berzakat harus terus dipupuk, terutama bagi mereka yang hidup sebagai minoritas di luar negeri. Ia berharap kegiatan ini menjadi pengingat bagi warga Muslim agar tidak melalaikan kewajiban finansial religiusnya. Penekanan utama Gus Muntaha adalah pentingnya menyalurkan zakat melalui lembaga amil yang memiliki kredibilitas tinggi dan manajemen yang transparan.
Melalui Lazisnu Jepang, para muzaki (pemberi zakat) diberikan kemudahan dan kepastian bahwa dana yang mereka keluarkan akan dikelola sesuai dengan ketentuan fikih dan prinsip akuntabilitas. "Kami ingin masyarakat Muslim di Jepang tidak hanya paham secara teori, tetapi juga tergerak untuk mempraktikkan ibadah zakat demi kemaslahatan bersama," ujar Gus Muntaha.
Persiapan Keilmuan Menjelang Ramadan bagi Warga PCINU Jepang
Senada dengan hal tersebut, KH. Ahmad Ghozali, Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Jepang, menyoroti urgensi pembekalan ilmu sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Menurutnya, pemahaman yang benar mengenai tata cara, jenis, dan nisab zakat merupakan prasyarat utama agar ibadah yang dijalankan sah secara syariat. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi warga NU yang berada di Jepang agar tetap bisa menjalankan aturan agama dengan presisi.
KH. Ahmad Ghozali menekankan bahwa keberadaan warga Muslim di luar negeri jangan sampai menjadi alasan untuk melonggarkan praktik ibadah. Justru, dengan ilmu yang memadai, syariat Islam dapat dipraktikkan dengan indah dan benar di mana pun mereka berada. Webinar ini menjadi sarana "ngaji" virtual yang krusial untuk memastikan seluruh umat Muslim di Jepang memiliki standar pemahaman zakat yang sama.
Filosofi dan Hikmah Zakat Menurut Prof. Dr. KH. Moh. Mukhrojin
Hadir sebagai pemateri utama, Prof. Dr. KH. Moh. Mukhrojin, MSI, mengupas tuntas tema mengenai optimalisasi peran zakat dalam mewujudkan kesejahteraan umat. Sosok yang akrab disapa Gus Khozin ini mengingatkan bahwa zakat bukan sekadar kedermawanan sosial, melainkan kewajiban mutlak bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat. Ia memberikan peringatan spiritual bahwa mengabaikan kewajiban ini membawa konsekuensi serius berupa siksa di akhirat.
Namun, pengasuh Pesantren Bismar Almustaqim Surabaya ini juga memaparkan sisi indah dari zakat. Bagi muzaki, zakat berfungsi sebagai pembersih harta dan jiwa, sedangkan bagi mustahiq (penerima zakat), itu adalah instrumen peningkatan taraf hidup. "Zakat memiliki dimensi hikmah yang sangat besar. Ia bukan hanya tentang memindahkan uang, tetapi tentang menyucikan keberkahan hidup," tegas Gus Khozin dalam pemaparannya.
Misi Transformasi Penerima Zakat Menjadi Pemberi Zakat di Masa Depan
Visi besar yang ditawarkan oleh Gus Khozin melalui webinar ini adalah transformasi ekonomi umat. Melalui pengelolaan zakat yang profesional di lembaga seperti Lazisnu Jepang, manfaat yang diterima oleh mustahiq tidak boleh berhenti pada pemenuhan kebutuhan finansial sesaat. Zakat harus mampu menjadi modal produktif yang dapat memberdayakan ekonomi penerimanya.
Tujuan akhirnya adalah sebuah siklus kemandirian, di mana mustahiq yang saat ini dibantu, diharapkan dapat berkembang dan sukses hingga di masa depan mereka berganti peran menjadi muzaki. Antusiasme peserta dari berbagai kalangan dalam webinar ini menunjukkan bahwa pesan-pesan transformatif tersebut diterima dengan baik. Kegiatan ini menjadi langkah nyata Nahdliyin Jepang dalam merayakan satu abad NU Masehi dengan aksi yang membawa dampak nyata bagi kesejahteraan umat di kancah internasional.