Mobil Listrik

Optimisme Di Tengah Ketidakpastian: Ramalan Hyundai Soal Pasar Mobil Listrik 2026 Tanpa Insentif

Optimisme Di Tengah Ketidakpastian: Ramalan Hyundai Soal Pasar Mobil Listrik 2026 Tanpa Insentif
Optimisme Di Tengah Ketidakpastian: Ramalan Hyundai Soal Pasar Mobil Listrik 2026 Tanpa Insentif

JAKARTA - Memasuki tahun 2026, industri otomotif Indonesia menghadapi babak baru yang penuh tantangan sekaligus peluang. Fokus utama para pelaku industri kini tertuju pada kebijakan pemerintah terkait insentif kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV).

Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya di mana pertumbuhan EV didorong oleh stimulus agresif, tahun 2026 diprediksi akan menjadi fase transisi di mana pasar harus mulai "berdiri di atas kaki sendiri". Menanggapi situasi ini, Hyundai Motors Indonesia (HMID) mengeluarkan proyeksi yang cukup berani: pasar mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV) diyakini akan tetap bertumbuh secara organik meski tanpa topangan insentif fiskal dari pemerintah.

Keyakinan ini didasari oleh kedewasaan pasar yang mulai terbentuk. Jika awalnya konsumen membeli mobil listrik karena iming-iming diskon pajak, kini preferensi telah bergeser ke arah efisiensi jangka panjang, teknologi ramah lingkungan, dan biaya operasional yang jauh lebih murah.

Hyundai memandang bahwa keberlanjutan ekosistem EV bukan lagi soal subsidi sementara, melainkan soal bagaimana produsen mampu menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan dan daya beli masyarakat luas.

Pertumbuhan Organik Dan Target Pangsa Pasar 13 Persen

Chief Operating Officer (COO) PT Hyundai Motors Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto, memproyeksikan bahwa pangsa pasar mobil listrik di Indonesia dapat menyentuh angka 13 persen pada tahun 2026. Meskipun insentif PPN DTP (Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah) mungkin tidak lagi tersedia seperti tahun-tahun sebelumnya, Hyundai melihat adanya tren positif di mana penetrasi BEV justru diprediksi akan melampaui pertumbuhan segmen mobil hybrid.

Strategi Hyundai untuk mempertahankan momentum ini adalah dengan menjaga stabilitas harga melalui efisiensi produksi lokal. Dengan fasilitas pabrik yang sudah terintegrasi di Indonesia, Hyundai memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menyesuaikan fitur dan spesifikasi kendaraan agar tetap terjangkau tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kebijakan fiskal pemerintah.

Investasi Strategis Dan Ekosistem Baterai Terintegrasi

Ketangguhan Hyundai dalam menghadapi pasar tanpa insentif bukan tanpa landasan kuat. Perusahaan asal Korea Selatan ini telah menanamkan investasi besar senilai USD 3 miliar untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang utuh di Indonesia, mulai dari perakitan unit hingga pabrik sel baterai lokal. Integrasi hulu ke hilir ini memungkinkan Hyundai menekan biaya produksi secara signifikan, sehingga harga jual kendaraan tetap bisa bersaing dengan mobil konvensional (Internal Combustion Engine/ICE).

Dengan memproduksi baterai sendiri di dalam negeri, Hyundai juga berupaya memenuhi kriteria Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi. Hal ini memberikan keuntungan psikologis bagi konsumen berupa jaminan ketersediaan suku cadang dan layanan purna jual yang lebih pasti. Di tahun 2026, tantangan "masalah baru" seperti harga jual kembali (depresiasi) akan dijawab dengan jaminan kualitas baterai yang lebih tahan lama dan program-proaktif dari pabrikan.

Diversifikasi Produk: Antara BEV, Hybrid, Dan Model XRT

Meski tetap memprioritaskan lini listrik murni seperti IONIQ 5, IONIQ 6, dan Kona Electric, Hyundai menunjukkan fleksibilitasnya dengan tetap menggarap pasar hybrid sebagai jembatan transisi. Di ajang IIMS 2026, Hyundai memperkenalkan varian terbaru seperti Palisade Hybrid dan Santa Fe XRT untuk memberikan pilihan yang lebih luas bagi konsumen yang belum sepenuhnya siap beralih ke listrik murni.

Langkah ini menunjukkan strategi cerdas Hyundai dalam memitigasi risiko. Jika pasar BEV sedikit melambat akibat penyesuaian harga tanpa insentif, lini hybrid dan ICE premium akan tetap menjaga performa penjualan perusahaan. Hyundai memahami bahwa di tahun 2026, kunci kemenangan bukan hanya pada teknologi, tetapi pada kemampuan membaca preferensi pelanggan yang semakin beragam.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index